Padepokan "GADUNGMERAH" Virtual

Padepokan Ini Telah Berubah Menjadi www.padepokanvirtual.com

Archive for May, 2009

Hikmah Kedua

Posted by seq13 on May 28, 2009

Kamis, 27 Mei 2009

1. Kerinduan ajali senantiasa bergelora dalam diri.
2. Suara kerinduan adalah,asset terpendam dalam diri yang tak pernah diperhatikan.
3. Pahamilah, bahwa diri adalah asset terpendam
4. Konversi diri hanyalah sebuah kerinduan
5. Kerinduan akan muncul kalau senantiasa diterpa oleh suara/panggilan kerinduan Maha Guru.

Posted in HIKMAH | Leave a Comment »

Jualan Kavling di Surga, Mengapa Tidak?

Posted by seq13 on May 16, 2009

Perjalanan dari Rumah menuju kantor, pada hari Jum´at, 9 November 2007, cukup menarik dan menyenangkan, serta dapat beberapa inspirasi untuk menulis sebuah catatan perjalanan harian. Semenjak awal naik metro mini, telah masuk seorang “pengamen” dengan ditemani sebuah gitar. Ia menyanyikan lagu percintaan yang sedang trend sekarang di kalangan anak-anak muda. Kemudian, ia meneruskan sebuah lagu dari Ebiet G. Ade. Tak lama kemudian, setelah pengamen pertama turun dari mobil, masuk seorang pengamen lagi dengan penampilan sama, dan ditemani juga dengan sebuah gitar, ia menyanyikan lagu lama, dari ciptaan Bimbo. Tanpa beberapa lama juga, masuklah seorang bocah kecil, yang masih berumur 10 tahun, membawakan lagu, dengan diiringi sebuah kecrekan terbuat dari botol air yang berisikan beras.

Pemandangan seperti ini, hampir selalu didapati di perjalanan naik angkutan umum di kota Jakarta, dan mungkin di kota lainnya. Entah semenjak kapan trend mencari nafkah bagi kehidupan dengan menjajakan sebuah nyanyian? Padahal jumlahnya cukup banyak, bahkan kalau didata mungkin mencapai ratusan. Hakikatnya, mereka ingin mencari rizki dengan bekerja seperti masyarakat umumnya, sebagai pekerja. Namun, karena keterbatasan kemampuan dan kesempatan, sehingga mengamen pun menjadi alternatif lain, bagi mengais rizki, sekedar memenuhi perut lapar, yang jauh dari kecukupan, apalagi berlebihan.

Potret wajah kota, saya mencoba menganalisanya dengan sederhana, mengapa fenomena ini semakin menjamur? Faktro pertama, perekonomian negara secara makro, mungkin mulai membaik, tapi dalam ekonomi mikro masih terus harus diperjuangkan. Angka kemiskinan, bukannya mengurang, melainkan semakin bertambah dari tahun ke tahun. Jumlah pengangguran pun, semakin meningkat, dan meningkat. Tetapi walaupun demikian, masih ada sebua asa dalam benak masyarakat untuk tetap eksis menjalani hidup, di tengah atmosfir perekonomian bangsa yang masih kurang menjanjikan bagi masyarakatnya.

Kalau melihat lebih teliti dari perekonomian kita, dari hulu sampai hilir, misalnya saja, kegiatan bisnis, dari mulai jajanan kecil yang seharga Rp. 500,- yang dibuat di pinggir got, alias comberan, sampai dengan jualan gedean dengan harga miliaran, seperti mobil-mobil mewah, masih ada, dan mobil mewah itu berkeliaran di tengah-tengah hiruk pikuk perekonomian masyarakat yang semakin terjepit. Menarik memang untuk dicermati.

Kembali lagi ke pembicaraan perjalanan harian. Dari nyanyian yang dibawakan oleh pengamen seperti di atas, ada sebuah bait nyanyian yang menarik saya, yaitu berbunyikan surga milik Tuhan, manusia tidak akan dapat merasakannya. Mendengar bait nyanyian itu, saya tertegun sebentar, dan bertanya dalam pikiran, mengapa sang penulis nyayian berpendapat demikian? Apakah ia tidak mengetahui surga? Atau belum mengetahui esensi dari kata “surga”?

Surga bukan jauh dari pandangan dan pikiran kita. Surga telah ada di hadapan mata kita. Mengapa masih mengingkari keberadaannya? Semua ciptaan yang telah diciptakan oleh Tuhan, telah ada sekarang ini, bukan nanti pada waktu di mana hari kiamat datang, dan dunia ini hancur. Dalam beberapa ayat, bahkan hampir mayoritas dari isi Al-Qur’an telah berbicara, bahwa kejadian hari Akhir, atau kiamat atau bahkan tentang kedudukan surga dan neraka, adalah telah ada sekarang ini. Mengapa manusia masih mengingkarinya? Para musisi, bukan hanya para da’i saja, memiliki kesempatan untuk menyampaikan misi dan visi kehidupan bagi masyarakat. Bahkan dalam beberapa kesempatan, di televisi, misalnya, ada seorang penceramah menyampaikan isi ceramahnya dengan mendendangkan lagu-lagu. Nyanyian, sedikit banyak, dapat dijadikan sebagai media bagi penyampaian pesan moral. Oleh karena itu, hendaknya sebuah lagu berisikan pesan moral, sehingga kehancuran moral bangsa tidak semakin terpuruk, dan hancur, sehingga kita dikenal sebagai bangsa “barbar”. Karena beberapa tahun yang lalu, tepatnya setelah kejadin bom Bali, bangsa Indonesia tecoreng namanya, menjadi bangsa “teroris”.

Surga diciptakan oleh Tuhan bukan untuk Tuhan sendiri, melainkan untuk para hamba-Nya. Tuhan tidak butuh lagi dengan ciptaan-Nya, ia butuh hanya satu, dari mulai dunia diciptakan sampai akhr zaman, yaitu IA menunggu kekasih-Nya, Sayyidina Muhammad SAW. Dialah yang dicari dan “dibutuhkan” oleh Tuhan, tidak membutuhkan yang lain. Nah, kalau demikian, untuk apa amalan kita lakukan? Kalau Tuhan hanya membutuhkan Sayyidina Muhammad SAW. saja. Titik. Mari kita membuka sedikit cara pandang keberagamaan kita, sehingga menemukan sesuatu yang baru, dan dapat merekonstruksi paradigma berpikir terhadap Agama. Misi utama para nabi dan rasul, serta guru-guru suci, ialah menyampaikan risalah, bagaimana manusia itu mengenal Tuhannya. Carilah ilmu tentang pengenalan ketuhanan! Tuhan tidak akan ditemukan di mana dan kapan saja, kalau tidak mengenal terlebih dahulu terhadap dirinya sendiri. Ilmu kenal diri, itulah ilmu utama yang menjadi main gate dari mengenal ketuhanan.

Surga dan lainnya, telah berada di hadapan kita. Pertanyaan yang ada, adalah bagaimana memahami kedudukan surga yag telah ada di hadapan kita? Bahkan di surga juga sebuah kavling siap untuk dijua, mengapa tidak? (bersambung ke bagian kedua)

Posted in DIARY | Leave a Comment »

TABAYUN

Posted by seq13 on May 16, 2009

TABAYUN
Rabu, 2007 Oktober 31

Assalamu’alaikum

Postingan ini merupakan jawaban saya kepada aktifis milis INSIST yang mengomentari syair saya berjudulkan STOP SESAT dan tulisan MENUAI “RAHMAT” BUKAN “LAKNAT”.

Terimakasih kepada ikhwan/akhawat yang ada di milis INSIST yang telah memberikan komentar dan kritik terhadap posting yang bertajukan STOP SESAT dan MENYOAL PENYESATAN. Dalam email ini, saya tidak akan mengomentari satu persatu terhadap komentar maupun kritik yang telah disampaikan kepada saya, tapi saya akan menjawab satu saja, dan ini untuk semua (one for all).

Saya senang terhadap ikhwan/akhawat yang masih menyimpan kecintaan yang dalam terhadap kemulian agama Islam sebagai penyempurna terhadap agama-agama yang telah ada sebelumnya. Sehingga, satu orang pun yang mencoba “mengutak ngatik” Agama tidak sesuai dengan konsepsi pengajaran dan pelajaran Agama, maka akan diluruskan dengan penuh kebijaksanaan, sebagaimana Umar bin Khatab menggoreskan pedangnya terhadap salah satu gubernur yang ada di Mesir. Kecintaan yang dalam itu, tentunya, tidak datang dari pemahaman keagamaan yang parsial, melainkan tumbuh dan berkembang dari keluasan wawasan dan kedalaman penghayatan pelaksanaan keagamaan, yang pada akhirnya mengkristal menjadi bahan bagi meningkatakan nilai-nilai spiritual yang ada dalam diri setiap insan. Kedalaman ini, sudah barang pasti, didasari oleh pengedepanan norma dan etika dalam berdialog yang positif dan konstruktif, sejalan dengan amanah ilmiyah yang menjadi ciri khas dari para ULUL ALBAB sebagaimana yang senantiasa ditegaskan oleh Ibn Rush dalam karya monumentalnya FASHLUL MAQAL;FIMA BAINAL HIKMAH WASSYARI’AH MINAL ITTISHAL, maupun pemikiran kenamaan lainnya.

Semoga semangat ilmiyah yang dipenuhi dengan amanah, mengalir dalam relung-relung spiritual yang bermuarakan pada penyemaian kecintaan kepada setiap manusia, tanpa melihat identitas suku, bahasa, ras, agama, bangsa. “Aku tidak mengutus engkau (Wahai Muhammad), kecuali kepada seluruh diri manusia [yang ada di dunia ini].” Dengan kecintaan juga, Jalaluddin Rumi menjadi kebanggaan bagi semua umat manusia, dan dapat mempersatukan manusia dengan pesanan kecintaan dan kedamaian. Sehingga, pada akhir hayatnya, seluruh umat manusia; Islam, Kristen, Yahudi dll, ikut menyaksikan pengistirahatan sementara di bumi tercintanya.

Fenomena “aliran sesat”, pada dasarnya, tidak hanya sekedar mereka “kurang paham” terhadap agama, melainkan lebih dari itu. Aliran sesat, bisa merupakan sebuah gerakan yang telah dibuat dengan sistematis oleh “oknum” tertentu, yang bertujuan tiada lain dan bukan, untuk memperkeruh iklim kenegaraan dan kebangsaan dengan berbagai dimensi kehidupan yang ada di dalamnya. Akar aliran sesat, yang perlu dicermati dan diteliti, bukan sekedar substansi pemikirannya, tetapi siapakah yang menjadi “dalang” dari semua gerakan aliran sesat ini. Mari kita mengkaji terhadap semua fenomena yang mencoba mengganggu stabilitas nasional, dengan berbagai “kedoknya”,yang semuanya mengatasnamakan agama. Padahal tidak demikian, kalau kita telusuri akar permasalahannya. Saya kira, ikhwan/akhawat di milis INSIST yang senantiasa melaksanakan kajian dan diskusi intensif yang dimotori oleh INSIST, lebih mengetahui gejalan aliran sesat ini.

Sedangkan mengenai aliran sesat yang masih hangat, AL-QIYADAH AL-ISLAMIYAH, melihat dari sosok pemimpinnya, ia merupakan “boneka” yang dibuat dengan penuh rekayasa oleh “oknum” tertentu, bukan murni aliran sesat. Permasalahan yang mencuat, adalah siapakah motor daripada Ahmad Mosheddeq ini? Selamat berdiskusi. Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada orang-orang yang belum sampai pada hadirat-Nya. Amien.

Wassalam,

Rahmat “SEQ”

Posted in DIARY | Leave a Comment »

Mengapa Cendikiawan Muslim Takut Poligami?

Posted by seq13 on May 16, 2009

“Sepatutnya kita mendukung pengetatan praktik poligami. Karena dengan begitu, kita bukan hanya melindngi kaum perempuan, tapi juga tidak kurang pentingnya dapat lebih punya peluang untuk mewujudkan keluarga sakinah yang mudah-mudahan penuh mawaddah wa rahmah.”

Kutipan di atas merupakan pernyataan cendikiawan muslim Indonesia, Prof. Dr. Azyu Mardi Azrah, Direktur Pasca Sarjana UIN Jakarta, yang ditulis pada harian Republika, 25/10/2007, dalam rubrik Resonansi. Setelah membaca tanggapan Azyu Mardi terhadap pembicaraan Pak Surono, di Jerman—sesuai yang diceritakan dalam Resonansi terrsebut—yang menyampaikan unek-uneknya kepada Azyu Mardi, ketika bertemu di salah satu tempat, di Jerman, saya “kaget” dan tidak menyangka, bahwa penulis memiliki pandangan sama dengan Pak Surono.

Pak Surono salah seorang yang kurang setuju dengan konsep poligami yang ada dalam Islam, dengan alasan poligami dapat “menelantarkan” istri-istri, dan tidak dapat berlaku adil, sehingga menjauhkan diri dari ridha-Nya. Pak Surono, mungkin yang lainnya juga, boleh berpendapat bagaimana pun terhadap konsep poligami. Pendapatnya itu, sudah barang tentu, dipengaruhi juga dengan wawasan dan pengetahuannya terhadap konsep poligami yang hakiki dalam Islam, maupun ajaran agama lain. Sehingga, Prof. Dr. Azyu Mardi Azra pun, yang memiliki wawasan luas dan pengetahuan dalam tentang studi Islam, memiliki pandangan sama—sebagaimana pernyataannya di atas tersebut. Mengapa alasan Azyu Mardi hampir mirip dengan pandangan Pak Surono, semestinya yang saya inginkan, ia lebih argumentatif dan substansialis sesuai dengan ajaran agama.

Poligami mengapa diperbolehkan oleh Allah SWT? Semua pernyataan Allah yang termaktub, terutama, dalam Al-Qur’an memiliki makna dalam, bukan hanya sekedar karena alasan sebagaimana yang dipahami oleh manusia seperti sekarang ini. Kalau pernyataan Tuhan adalah tidak memiliki filosofi yang cukup dalam, tentu saya akan menjadi orang pertama yang “protes” dan mengkritik Tuhan. Padahal tidak demikian. Dasar Poligami maupun pernikahan dilakukan, pada dasarnya, adalah untuk meningkatkan nilai-nilai spiritual dalam diri manusia, bukan hanya untuk kenikmatan semata (hedonis). Dari konteks ini, para nabi, para rasul, dan para guru-guru yang memiliki kualifikasi keilmuan hakikat sejati diri yang luhur, melalukan pernikahan dan poligami kalau dipandang perlu. Bahkan, dalam ajaran kejawen, seperti yang telah disampaikan oleh para pujangga masa lalu dalam tulisannya berbentuk serat—contohnya Serat Centini—menjelaskan tentang misi dan visi dari pernikahan, sehingga dapat mengaktualisasikan diri sejatinya yang hakiki, dengan sebutan “manunggaling kawula gusti”.

Ibnu Araby, sebagai syeikh sufi kenamaan di dunia Muslim, berpendapat demikian, bahwa tujuan pernikahan adalah untuk menemukan sejati dirinya yang hakiki, atau dalam bahasa literaturnya, “aku menemukan Tuhan dalam diri perempuan.” Pendapat ini yang dikutip oleh Sachiko Murata dalam bukunya, The Tao of Islam, adalah puncak dari penghayatannya yang terdalam dari jiwa Ibnu Araby. Dan, para guru suci, tidak jauh dengan Ibnu Araby berpendapat yang sama. Mereka memiliki juklah dan juknis, bagaimana menemukan Tuhan dalam diri perempuan. Perempuan menjadi lokus bagi peningkatan spiritual seorang lelaki, dan dengan sendirinya seorang perempuan mendapatkan pencerahan spiritual dari suami yang memiliki keilmuan hakikat sejati diri manusia yang abadi.

Dari pemikiran ini juga, mengapa Tuhan memperbolehkan hamba-Nya berpoligami. Wanita-wanita yang bekualitas—karena bobot, bibit, bebet yang tinggi—menjadi dambaan para lelaki yang mengenal ketuhanan dengan sempurna. Ciri-ciri wanita shaleha, adalah pertama, shidiq. Seorang istri harus jujur terhadap suaminya, sehingga menjadi buaian spiritual yang luhur akan mengkristal dalam diri istri. Kedua, amanah. Ia harus dapat dipercaya oleh suaminya, dan pandai menyimpan rahasia yang menjadi rahasia suaminya, begitu juga dengan hal-hal lain yang harus dipegang secara amanah oleh istri. Ketiga, tablig. Seorang istri tidak boleh menyimpan suatu rahasia tertentu dalam dirinya, kecuali suaminya mengetahui, sekalipun rahasia tersebut sebesar lubang jarum. Bagaimana seorang istri menyimpan rahasia dari pengetahuan suaminya, sementara istri ialah rahasia diri seorang suami. Keempat, fathanah. Seorang istri hendaknya cerdik dalam memahami pikiran dan keinginan suami. Setelah sifat empat ini ada dalam diri istri, maka suami harus dihiasi dengan dua sifat utama, yaitu pertama, qahar dan kedua, muhit. Dengan kedua sifat ini yang merupakan kewajiban suami memiliki keilmuan hakiat diri manusia yang paripurna, dan memiliki kekuatan yang tinggi bagi mengayuh bahtera rumah tangga dalam rangka mengenal eksistensi Tuhan sebagai rahasia diri orang-orang beriman. Nah, siapakah perempuan dan lelaki yang memiliki sifat di atas?

Sekalipun seorang suami memiliki dua sifat tersebut, tetapi istrinya tidak memiliki keempat sifat itu, maka cukup sulit bagi suami untuk meningkatkan spiritual secara optimal, begitu juga sebaliknya bagi istri yang memiliki kedua sifat tersebut, sedangkan suaminya tidak disifati dua sifat itu. Dalam rangka mencari sifat yang sempurna itulah, mengapa suami berilmu menikah lebih dari satu, bahkan sampai empat. Saya pernah mendengar langsung, bahwa ada seorang kyai bertutur kepada para jama’ahnya, dalam sebuah acara Majelis Ta’lim, “saya ini, hadirin semua, tidak memiliki harta yang cukup, hanya empat “petak” sajalah saya dikasih harta oleh mertua”, apa empat petak itu celetuk seorang jama’ah, “empat petak itu, adalah empat istri”, dan alhamduliiah dengan keempat istri saya dapat memberikan bantuan dan menjalankan dakwah seperti ini, tegas kyai. Itulah salah contoh sederhana dari para aktifis poligami.

Dalam teks keagamaan, misalnya, mengapa nabi bersabda, “wahai pemuda, kalau engkau ingin kaya, maka menikahlah”, tegas nabi. Seorang teman berkata, itu kan yang dimaksud dengan kaya dalam hadits tersebut, adalah kaya hati. Bukan hati saja, tetapi kaya dengan materi, tegas saya kepadanya. Tapi, permasalahan yang harus diketahui oleh kita, pernikahan yang bagaimana—dimaksud oleh nabi—sehingga dapat menjadi kaya. Begitu juga dalam hadits lain, Muhammad SAW. berkata; “aku senang dengan umatku yang banyak keturunannya.” Tentu pernyataan nabi tidak hanya sekedar ucapan biasa, namun perkataan itu merupakan ungkapan wahyu yang benar dan dapat dibutkikan kebenarannya oleh kasat mata, tapi hanya beberapa orang saja yang dapat membuktikan kebenarang perkataan nabi dengan kasat mata.

Oleh karena itu, saya mengajak para pembaca, mari mengkaji konsep poligami secara komprehensif, dan tingkatkan nilai-nilai spiritual yang ada dalam setiap diri. Tanpa peningkatan spiritual, hidup ini tidak akan berarti. Temuilah “kemanusianmu” yang menjadi rahasia dirimu semenjak zaman ajali. Temuilah para guru suci untuk menerangkan hikmah dari sebuah pernikahan. Temukan guru sejati bagi mengungkap harta yang terpendam dalam diri. Mengapa cendikiawan muslim takut poligami? (Rahmat SEQ)

Posted in DIARY | Leave a Comment »

Menuai “Rahmat” Bukan “Laknat”

Posted by seq13 on May 16, 2009

“Pemerintah tidak boleh tinggal diam. Pemerintah harus segera menghentikan gerakan ini, usut dan tangkap pelakunya, termasuk siapa yang berada di belakang gerakan ini semua.” (Republika, 25/10/2007).

Statemen di atas, disampaikan oleh Rais Tanfidh Nahdatul Ulama, KH. Hasyim Muzadi, yang mengomentari terhadap berkembangnya organisasi Al-Qiyadah Al-Islamiyah, pimpinan Ahmad Moshaddeq. Setelah membaca pernyataan Hasyim Muzadi tersebut, yang dimuat di harian Republika, 25/10/2007, dengan tajuk PBNU Desak Hentikan Al Qiyadah Al Islamiyah, penulis tersentak dan termenung cukup lama, dan bertanya-tanya dalam benak pikiran, mengapa statemen itu harus keluar dari mulutnya orang bijak, yang memimpin ORMAS besar, Nahdlatul Ulama? Bukankah ia juga adalah salah satu tokoh Organisasi Lintas Agama?

Sebelum mengeluarkan pernyataannya, seyogyanya ia melakukan verifikasi dengan cara dialog bersama pendiri Al Qiyadah Al Islamiyah, sehingga mengetahui secara transfaran konsep umum tentang pemahamannya terhadap ajaran Islam. Atau mungkin, ia telah berdialog dan mengkaji dengan seksama terhadap pemahaman Ahmad Moshaddeq, dan mengambil kesimpulan bahwa Al Qiyadah Al Islamiyah adalah sesat dan merusak aqidah Islam. Parameter apakah yang dipakai oleh KH. Hasyim Muzadi dalam menilai Al Qiyadah Al Islamiyyah dan organisasi-organisasi yang memiliki kesamaan dengan Al Qiyadah adalah sesat? Saya tidak mendukung dan mengingkari terhadap pemahaman-pemahaman yang disampaikan oleh Ahmed Moshaddeq maupun lainnya, tapi saya lebih senang melakukan chek and rechek kepada sumbernya, dalam menemukan sebuah permasalahan yang sedikit banyak berhubungan dengan kepentingan publik, kemudian menarik benang merahnya dengan penuh kebijaksanaan. Metode inilah yang dipakai oleh ûlul albâb. Ketidakbijaksanaan dalam menilai pemahaman keagamaan seseorang maupun dalam sebuah payung keorganisasian, akan mendatangkan efek kurang baik bagi citra diri seseorang, dan kalau orang tersebut adalah memiliki jabatan publik, maka dapat mengurangi nilai kebaikan image organisasi.

Penyesatan bukan hanya dialami oleh Al Qiyadah Al Islamiyah, melainkan oganisasi lainnya pun nyaris mengalami yang sama, misalnya saja, beberapa bulan yang lalu, perguruan Mahesa Kurung (MK) telah disesatkan oleh Majelis Ulama Indonesia Bogor, dengan alasan—salah satunya—percaya kepada perdukunan adalah perbuatan musyrik. Begitu juga dengan Ahmadiyah yang mengakibatkan kerugian bagi jama’ahnya bukan hanya sekedar mental, tapi fisik pun dialami cukup parah oleh mereka. Sebelumnya pun, Lia Edent dihukumi sesat, dan merugikan masyarakat, sehingga ia harus “nyantri” dulu beberapa saat di “pesantrren” yang biliknya dari besi. Entah, apa dan siapa lagi yang akan menjadi obyek penyesatan. Siapa dan apa motif dibalik gerakan penyesatan yang dilakukan oleh beberapa lembaga swadaya masyarakat, selain ormas resmi? Semoga budaya ini tidak berkembang dengan cepat di bumi para waliyullah, Indonesia. Cukup hanya di ranah Arab.

Kedalaman Ajaran Islam
Makna filosofi ajaran agama Islam cukup dalam, sehingga hanya orang-orang cerdik dan pandailah yang dapat merasakan “manisnya” ajaran Islam. Ajaran Islam, kalau boleh saya ilustrasikan dengan sebuah “gitar”, ia (Islam) dapat dipetik sesuai dengan keahliannya orang memainkan gitar. Kalau petikannya dangdut, sudah jelas yang mendengarkannya pun pecinta dangdut, dan biasanya para “pengamen” di jalanan yang memetik gitar dengan nada dangdut, mendapatkan imbalan recehan. Tapi, kalau gitar dipetik dengan petikan klasik, maka yang menikmatinya juga, adalah orang-orang tertentu yang menyukai musik klasik. Musik klasik, realitasnya, dimainkan hanya di gedung-gedung mewah, dan yang hadir pun orang-orang “menengah”; para pecinta musik klasik, bayarannya pun cukup mahal. Begitulah dengan ajaran Islam, kalau ajaran Islam hanya dipahami metode “pemahaman” orang-orang umum, yang terjadi seperti sekarang ini, semua orang merasa punya hak untuk menyampaikan risalah Islam, sehingga para da’i yang seharusnya menyampaikan tuntunan, tetapi yang ada hanyalah menjadi “tontonan”, masyarakat hanya senang dengan “guyonan” para da’i saja, sedangkan isinya sudah tidak diperhatikan lagi. Tidak heran, masyarakat yang telah mendengarkan ceramah para da’i tersebut, setelah pulang ke rumahnya, yang diceritakan di keluarganya, ialah cerita guyonannya da’i, bukan substansi ceramahnya.

Untuk meminimalisir agar tidak mudah keluar pernyataan dalam menilai sebuah pemahaman keagamaan, hendaknya setiap orang, terutama orang yang memiliki kedudukan penting di organisasi kemasyarakatan untuk melihat terhadap ajaran Islam dari empat dimensi; dimensi syariat, dimensi thariqat, dimensi hakikat, dan dimensi ma’rifat. Dengan empat dimensi, pemahaman ajaran Islam akan berakarkan ke bumi bercabangkan ke langit. Keempat dimensi disampaikan dengan benar dan tepat oleh para guru yang struktur keilmuannya sampai pada pembawa pertama, Muhammad SAW. (dengan memiliki legalitas spiritual yang amanah), nasab para guru juga dapat dipertanggungjawabkan (sesuai dengan bobot, bibit, dan bebetnya), dan kepribadiannya pun mencerminkan akhlak mulia, sebagaimana Rasulullah, menjadi suritauladan bagi umatnya.

Perbedaan pendapat yang mencuat di blantika pemikiran dan pergerakan, sehingga keluar fatwa-fatwa sesat dari organisasi resmi masyarakat, dikarenakan—mungkin, semoga ini tidak terjadi—para inohongnya kurang memiliki kualifikasi sebagai seroang yang berilmu “luhur”; mengenal hakikat sejati dirinya, dan mengenal Tuhannya dengan pasti, serta telah sampai pada tapal batas ketuhanan dengan sempurna. Mereka yang telah sempurna ilmu ketuhanannya dan kemanusiannya, salah satu cirinya, tidak pernah menghukumi seseorang dikarenakan perlakuannya atau pemikirannya, melainkan mereka memberikan pengarahan dengan penuh kebijaksanaan terhadap orang-orang yang dianggapnya tidak sejalan lagi dengan ajaran dan tuntunan Agama, dan mengedepankan etika berkomunikasi dengan penuh kesantunan. Siapakah tipologi ulama yang demikian?

Tuhan mencintai para hamba-Nya yang selalu mengedepankan kebijaksanaan, bukan mengedepankan hukuman. Karena dengan kebijaksanan-Nya, Allah melanggengkan kehidupan ini dengan penuh dinamikanya. Kalau kebijaksanan-Nya telah dicabut, maka entah apa yang akan terjadi? Para nabi dan rasul diutus ke dunia ini, dari mulai Nabi Adam as. sampai pada Nabi Muhammad SAW., adalah untuk menyampaikan kebijaksanaan. Mengapa kita tidak mengikuti jejak mereka?

Menuai “Rahmat” Bukan “Laknat”
Era reformasi yang membuka kran nilai-nilai demokrasi dan universal bagi masyarakat untuk dapat direalisasikan, ternyata tidak bisa dinikmati dengan penuh kebebasan, setiap orang bebas menyampaikan pendapat, bahkan dalam ranah keagamaan pun, setiap orang bebas menjalankannya sesuai dengan pemahaman keimanannya, tapi tetap berjalan dalam koridor NKRI. Nah, bagi umat Islam, kebebasan ini sebenarnya menjadi gerbang utama bagi meningkatkan nilai-nilai pemahaman spiritual dalam setiap dirinya. Bukannya seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Fatwa sesat, musyrik, bid’ah, khurafat, dan klaim lainnya malah dengan bebas keluar, dan masyarakat dipaksa untuk mengikuti pemahaman ajaran keagamaan yang telah ada. Di manakah kebebasan untuk meningkatkan nilai-nilai keagamaan dalam diri? Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar, dan hendaknya perbedaan tersebut disambut dengan peningkatan karya pemikiran, sebagaimana para cendikiawan sebelum tahun 1912.

Era reformasi hendaknya menjadi “rahmat” bagi masyarakat Indonesia, bukan menjadi “laknat” yang hanya dapat membawa ke alam keterpurukan; tidak mengenal kembali terhadap Tuhan sejatinya, yang dulu kala pernah bersaksi dengan-Nya, bahwa IA adalah Tuhannya, tetapi sekarang sudah melupakan eksistensi Tuhannya tersebut. Tuhan tidak di mana-mana, Tuhan hanya ada dalam diri manusia. Bukan seperti judul film sinetron, Tuhan Ada Di mana-mana. Bagaiamana kita mengingkari kedudukan Tuhan ada dalam diri kita sendiri, sedangkan Tuhan sendiri telah menyatakan dalam kitab suci-Nya; “Aku lebih dekat dari urat lehermu.” “Ingatlah Tuhanmu dalam dirimu.” Semua kitab suci agama-agama besar di dunia ini, menyatakan dengan jelas, bahwa Tuhan itu hanya ada dalam diri manusia. Titik. Wajarlah, kalau problematika multidimensi yang sedang menimpa bangsa Indonesia, salah satunya disebabkan oleh raknyat sudah tidak mengenal lagi terhadap Tuhan sejatinya. Syiar dakwah—bisa dibanggakan—berkembang dengan pesat di mana-mana, namun substansi agama sudah mengalami kekeringan. Spirit dakwah tidak lagi dengan mudah ditemukan dari mulut para da’i. Dinding agama telah hancur oleh umatnya sendiri, bukan hanya oleh umat lain. Ironis memang. Siapa yang dapat membangun kembali dinding agama?

Posted in DIARY | Leave a Comment »

Puasa dan Rekonstruksi Diri Manusia

Posted by seq13 on May 16, 2009

Puasa yang sedang dijalankan kaum Muslimin di seantero dunia, saat ini, menjadi momentum penting bagi Muslimin untuk “meningkatkan” nilai-nilai spiritual dirinya, sebagai “media” ber”semayamnya” rahasia besar, yang telah ada semenjak ajali. Rahasia besar ini yang dinamakan dengan “amanah” yang telah ditawarkan kepada petala langit-langit dan bumi, namun keduanya menolak menerima-Nya, tidak sanggup menerima beban besar yang akan ditanggung oleh dirinya. Dan, manusia “berani” menerima “amanah” besar tersebut, tapi—dalam perjalanan selanjutnya—manusia lalai dan bodoh (tidak tahu diri).

Amanah besar tersebut, tiada lain, ialah insân terpuji (Muhammad, artinya secara linguistik adalah yang terpuji). Mengapa menjadi manah besar? IA menjadi kutub meridien dari semua prosesi peribadatan kepada Maha Bijaksana, AlLâh SWT. IA dijadikan sebagai tempat “persambungan” Tuhan dan para malaikat, serta orang-orang yang beriman. “Sesungguhnya AlLâh dan para malaikat bersambung (yushallûna) di atas nabi, hai orang-orang beriman bersambunglah kepadanya, dan serahkan dirimu sekalian dengan penyerahan yang sempurna.” Mengapa masih banyak orang meragukan eksistensi insân terpuji? Bukankah asal muasal semua kejadian berasal dari insân terpuji? “Kalaulah bukan engkau, wahai Muhammad, Aku tidak akan menciptakan kosmos ini”, demikian tegas Tuhan dalam hadits qudsi.

Definisi Puasa
Puasa diserap dari dua kata Sansekerta, yaitu “upa” = dekat dan “wasa” = berkuasa. Jadi “upawasa” biasa dilafalkan sebagai puasa, merupakan cara untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dalam bahasa Inggris “Fasting” yang diserap dari kata Jerman kuno “fastan” = menggengam. Puasa dalam bahasa Ibrani tsum, tsom dan “inna nafsyo” yang berarti merendahkan diri dengan berpuasa, sedangkan dalam bahasa Yunani = nesteuo, nestis atau asitia/asitos. Bahasa Arabnya shaum atau shiam.

Melihat etimologi puasa dari bahasa Sansekerta, artinya “dekat berkuasa”. Merefleksikan pikiran kita pada, bahwa orang yang dekat kepada-Nya pasti memiliki kekuasaan untuk melakuak suatu pekerjaan bagi peningkatan kreatifitas dan inovasi dirinya, sehingga teraktualisasikan nilai-nilai spiritual yang telah ada dalam dirinya ke dalam kampas realitas kehidupan yang membutuhkan misi dan visi yang tepat. Tiada logika yang dapat menyangkal pemikiran demikian. Namun, yang menjadi pertanyaan selanjutnya, bagaimana mendekatkan diri kepadanya, sehingga memiliki “kekuasaan-Nya”? Semua orang berusaha untuk mengiterpretasikan dari makna “ibadah” (mendekatkan diri kepada-Nya), sesuai dengan tingkatan intelektualnya. Tapi, hakikatnya, semua orang tersebut, adalah mencari “pendekatan” pikiran yang sesuai dengan maksud dan tujuan serta keinginan Tuhan terhadap para hamb-Nya dalam mendekatkan diri kepada-Nya.

Metode untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, terus digulirkan oleh para cendikiawan (ulama) dengan mengukil beberapa teks keagamaan; Al-Qur’an dan Hadits. Ternyata belum sampai pada pendekatan hakiki, yang sesuai dengan keinginan Tuhan. Mengapa demikian? Metode efektif dan ideal sesuai perjalanan intelektual dan pengalaman spiritualitas setiap diri manusia, adalah dengan metode pengenalan diri. Bagi orang-orang yang telah kenal dirinya, mereka kenal eksistensi Tuhannya dengan tepat, dan dapat dibuktikan serta dirasakan secara nyata, sehingga muncul sebuah keyakinan yang paripurna (haqul yakin), bahwa mereka telah dekat dengan-Nya. “Barangsiapa yang telah kenal dirinya, maka sesungguhnya ia telah kenal Tuhannya.” (Hadits Qudsi)

Kenal diri merupakan main gate bagi mendekatkan diri kepada Tuhan. Bagaimana dapat mendekatkan diri kepada-Nya, sementara diri kita sendiri tidak kenal dengan baik. Tuhan tidak bersemayam di mana-mana, seperti yang diceritakan dalam sebuah sinetron televisi, Tuhan ada di mana-mana. Tuhan hanya “bersemayam” dalam diri manusia, dan hanya hati orang berimanlah yang sanggup menerima eksistensi Sang Maha Wujûd. Kalau eksistensi ketuhanan telah dipahami berada dalam diri manusia, langkah selanjutnya untuk mendekatkan diri kepadanya, adalah menjadi sesuatu yang mudah. “Carilah segala sesuatu dalam dirimu”, demikian pernyataan seorang filosof dari Turki.

Adapun makna puasa dari bahasa Inggris, yaitu “menggenggam”. Artinya, kalau kita telah dekat dengan-Nya, maka kekuasaan-Nya dapat kita “genggam” untuk diaktualisasikan ke dalam penciptaan kreatifitas bagi pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesejahteraan manusia. Bisakah manusia “menggenggam” kekuasaan-Nya? Ingat pesan Tuhan dalam hadits qudsi yang berbunyi; “Kalau Aku telah mencintai hamba-Ku, maka Aku akan menjadi matanya untuk dia melihat, menjadi tangannya untuk bekerja, dan menjadi kakinya untuk berjalan.”

Sedangkan makna puasa dari bahasa Ibrani, yaitu “merendahkan diri”. Orang-orang yang telah kenal kepada hakikat sejati dirinya/hakikat eksistensi Tuhannya, mereka akan rendah diri. Karena orang-orang bijak, lebih banyak diam dan berpikir. Diam artinya, mereka senantiasa mengingat eksistensi ketuhanannya yang telah menjadi rahasia dirinya, pada setiap gerak dan langkahnya, bermeditasi (tafakur) sepanjang masa; tidak mengenal waktu dan tempat, mereka selalu ingat kepada-Nya. Mereka tidak banyak bicara—mengurangi pembicaraan yang dapat melalaikan dirinya untuk ingat kepada-Nya—permasalahan lain, kecuali berbicara mengenai ketuhanan dan kemanusiaan. “Barangsiapa yang telah kenal Tuhannya, maka kelulah lisannya.” Oleh karena itu, mereka tidak mendapatkan ruang lagi untuk “menyombongkan dirinya”, karena telah kenal pada hakikat dirinya. Walaupun, pada dasarnya, nilai-nilai ketuhanan itu—di antaranya—Maha Sombong (mutakabbir). Mengapa orang-orang yang “belum” kenal dirinya berlaku sombong dan angkuh?

Mengapa Manusia Harus Berpuasa?
Semua ritualitas peribadatan tidak lepas dari asbab—sebagaimana setiap surat dari Al-Qur’an diturunkan berdasarkan asbab nuzul—dasar pemikiran yang menyertainya. Asbâb peribadatan dalam Islam selalu terkait dengan eksistensi diri manusia. Begitu juga, dengan puasa. Filosofi historis puasa, adalah sebelum kita lahir ke dunia, pada bulan terakhir (dalam rahim ibu), huruf-huruf ditulis dalam diri kita sebanyak 30 huruf (30 huruf ditulis selma 30 hari). Jadi, selama satu bulan (30 hari), 30 huruf ditulis dalam diri kita. Pada waktu pagi, mulai terbit fajar, bayi yang ada dalam rahim tidak menerima makanan dari flasenta, kemudian pada sore hari—terbenam matahari, waktu Maghrib—bayi mendapatkan suplai makanan kembali dari flasenta.

Begitulah, napak tilas kita, yang diaktualisasikan dalam puasa selama bulan Ramadhan. Kalau telah memahami seperti ini, setiap diri kita dalam berpuasa Ramadhan, tidak akan lagi mengharapkan pahala dari semua pekerjaan ibadah di bulan Ramadhan, karena puasa merupakan napak tilas jati diri setiap manusia. Sehingga perenungan napak tilas ini, seyogyanya dilakukan setiap saat, bukan sekedar bulan Ramadhan. Begitu juga dengan peribadatan-peribadatan lainnya, merupakan napak tilas dari perjalanan hidup kita dari lahir sampai mati, dan dari mati sampai terlahir kembali.

“Bagi yang berpuasa mendapatkan dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka puasa (fithri), kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhan.” Makna hadits ini, kalau kita melihat dari perspektif lain, akan berarti—sesuai dengan pemikiran di atas sebelumnya—kata fithri (yang diartikan berbuka puasa), adalah memiliki arti juga sebagai ciptaan/citra, sesuai dengan ayat lain yang mengatakan; “AlLâh menciptakan manusia sesuai citra-Nya.” Nah, kalau kita mengartikan kata fithri dengan ciptaan, maka akan berkorelasi dengan makna puasa sebagai napak tilas ketika dituliskan 30 (tiga puluh) huruf dalam diri kita. Jadi, bagi orang yang shâim (puasa) mendapatkan kebagian, pertama ketika diciptakan (fithri), dan kebahagian kedua adalah ketika bertemu dengan Tuhannya. Bertemu dengan Tuhan bukan berarti nanti, di hari akhir, melainkan ketika bayi akan lahir, Rabbul Jalil bertanya kepada bayi, apakah Aku ini Tuhanmu? Saat itu bayi (kita semua) menjawabnya, ya…Engkau adalah Tuhanku. Demikian jelas Al-Qur’an. Dengan demikian, arti dari hadits tersebut, menemukan korelasinya dengan makna puasa sebagai napak tilas. Kebahagian ketika diciptakan dan kebahagian ketika bertemu dengan Tuhan. Bukan sebagaimana yang diartikan selama ini, yaitu kebahagian ketika berbuka puasa, dan kebahagian ketika bertemu dengan Tuhan, nanti di hari akhir. Hendaknya pemahaman terhadap puasa, ditingkatkan oleh diri kita setiap tahunnya, sehingga menemukan makna hakikat dari puasa, dan semakin mendalam penghayatan terhadap ritualitas peribadatan dalam agama Islam. Ajaran Islam memiliki makna filosofi yang dalam, dan sempurna. Tidak seperti agama lain. Karena Islam datangnya terakhir, maka kesempurnaan ajarannya, sudah dapat dipastikan adalah lebih sempurna dari agama lainnya. Namun, mengapa sebagian dari kita, masih memahami semua ajaran Islam secara parsial, dan tidak mengalami peningkatan yang signifikan terhadap nilai-nilai spiritual dalam semua ajaran Islam.

Begitu juga dengan bunyi ayat Al-Qur’an, yang selalu dijadikan landasan dalam berpuasa, oleh semua kalangan, yaitu “hai orang-orang beriman telah diwajibkan terhadap engkau semua untuk berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada umat terdahulu (sebelum engkau semua), agar kamu bertaqwa.” Dari konteks pemikiran di atas, maka ayat ini akan berbunyi—ketika diterjemahkan—sebagai berikut; “Hai orang-orang beriman, telah dituliskan (diwajibkan) terhadap engkau semua untuk merenungi terhadap napak tilas perjalanan hidupmu ketika dalam rahim ibumu, sebagaimana telah dituliskan (diwajibkan) kepada orang-orang sebelum engkau semua, [hal ini dilakukan] agar engkau semua tunduk (taqwa)/rendah diri.” Tujuan dari puasa, terakhirnya, adalah memiliki jiwa yang rendah diri, tidak angkuh, karena telah mengenal dirinya, orang-orang yang berpuasa akan tawadhu, rendah diri, menghormati terhadap semua orang, dengan penuh kasih sayang dan cinta yang keluar dari lubuk sanu barinya. Itulah harapan dari pelaksanaan puasa secara lahiriah pada bulan suci, Ramadhan.

Refleksi Puasa;
Berdasarkan konsep pemikiran, bahwa puasa adalah suatu perbuatan napak tilas terhadap perjalanan hidup, maka perbuatan puasa dapat memberikan nilai-nilai positif terhdap dimensi kehidupan dalam bernegara, bersosial, berekonomi, dan berpendidikan. Dimensi negara artinya, memberikan spirit terhadap kinerja negarawan dalam mengayuh roda pemerintahan, baik yang ada di lembaga legislatif, lembaga yudikatif, dan lembaga eksekutif. Kinerja ini tentunya, akan bermuarakan pada kepentingan bangsa dan negara, dan tidak akan mendorong pada kepentingan pribadi, karena jiwa puasa sebagai napak tilas menuntut semua negarawan untuk senantiasa ingat pada hakikat sejati dirinya, sebagai media ekspresi dari kekuatan dan kekuasaan Sang Maha Kuasa. Nilai-nilai normatif ini, akan mewarnai kinerja negarawan seiring meningkatnya pemahaman spiritual dalam diri setiap insan.

Carut marut kebernegaraan kita, sedikit banyak, adalah dipengaruhi oleh kurangnya pemahaman yang hakiki terhadap ajaran agamanya. Secara de jure, mayoritas negarawan Muslimin, seyogyanya memberikan nuansa moral yang puritan juga, namun realitas bericara lain. Bulan Ramadhan ini, dapat dijadikan momentum untuk meningkatkan pemahaman ajaran Islam yang hakiki, sebagaimana dipahami dan dijalankan oleh para spiritualis sejati yang selalu melantunkan kalimat thayyibah, dan mengingat sejati dirinya, tempat bersemayam Tuhan Yang Esa.

Dimensi sosial, nilai-nilai puasa akan memberikan dorongan kuat terhadap kekuatan kesosialan di antara kita. Manusia diciptakan untuk senantiasa mengingatkan satu sama lainnya, terhadap misi dan visi kehidupan yang hakiki, yaitu “mengenal eksistensi diri-Nya.” Misi untuk mencapai tujuan mulia, dapat diwujudkan dengan memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap saudaranya. Bagaimana dapat dikatakan telah beriman seseorang, apabila saudaranya masih ada yang kelaparan? Kelaparan salah satu problematika kemiskinan yang sedang menimpa negeri kaya ini, Indonesia. Mari menyatupadukan misi kehidupan, bagi menggapai kesatuan di antara bangsa Indonesia.

Dimensi ekonomi, kesenjangan ekonomi terjadi dengan mencolok di berbagai lini masyarakat. Kesejanjgan dipicu oleh budaya matealistik yang mengedepankan kaum yang kuat. Merekalah yang akan menggapai kesejahteraan perekonomiannya. Sementara, para dhuafa, hanya menelan ludah saja dari kesejahteraan yang dicicipi oleh para kaum kapitalis Melayu. Melalui spirit Ramadhan, kesejahteraan perekonomian rakyat dapat ditingkatkan, sebagai wujud kepedulian terhadap kaum papa dan miskin ini, melalui pemberdayaan zakat, infaq, sedekah, serta programisasi pemberdayaan ekonomi kecil oleh pemerintah dengan mengedepankan kepentingan kecil di atas kepentingan menengah. Kedhaliman dalam ekonomi, dengan sendirinya menurun, yang ada hanyalah kemaslahatan bersama. Di bawah payung ekonomi kerakyatan, sebenarnya, Muhammad SAW. dapat mensejahterakan umatnya pada masa itu. Aktualisasi ajarannyalah yang harus dihidupkan, dan direalisasikan secara seksama.

Dimensi pendidikan, sulitnya kaum kecil mencicipi pendidikan sesuai amanah Undang-Undang Dasar 45, diharapkan terkikis oleh adanya peningkatan spiritual di setiap diri para pemegang kekuasaan khususnya, dan masyarakat yang peduli terhadap masa depan generasi bangsa, umumnya. Pendidikan bukan hanya dimulai semenjak telah lahir, melainkan semenjak dalam kandungan pun pendidikan harus telah dimulai. Bahkan, dalam ajaran hakikat diri manusia, setiap orang yang akan lahir ke dunia, sebenarnya, telah dapat “diprogram” sedemikian rupa, sehingga sesuai kualtias calon bayi merupakan “produksi” unggulan, dan dengan sendirinya, menjadi generasi bangsa yang dapat diandalkan dengan baik.

Posted in DIARY | Leave a Comment »

Bagaimana Menjadi “Anak” Spritual? Bagian Kedua

Posted by seq13 on May 16, 2009

Beberapa pesan dari ritualitas ibadah, ada yang menjadikan, bahwa apabila seseorang melakukannya dengan tepat, ia akan menjadi seperti “bayi” lagi. Contohnya, pelaksanaan naik haji, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang melakukan naik haji, tidak berbuat keji dan fasik, maka orang itu akan kembali menjadi “bayi”.” Artinya, ritualitas haji, kalau dijalankan dengan benar dan tepat, sesuai tuntutan Rasulullah, secara langsung ia akan meraih kebaikan yang kembali pada dirinya, yaitu menjadi “bayi”. Bayi di sini, bukan berarti makna bayi secara literal, melainkan “bayi” makna demikian Syeikh Abdul Qadir Jailani berpendapat. Atau, “bayi” tersebut, dalam bahasa Al-Qur’an diartikan dengan “rasul”. Temuilah “bayi” maknamu dalam diri, sudah barang tentu, bukan di luar dari diri. Barangsiapa mencari segala sesuatu dari dalam diri, ia akan menemukannya, pasti. Titik. Tapi, sebaliknya, barangsiapa mencari sesuatu di luar dari dirinya, ia tidak akan menemukan, abadan,abadan (selamanya).

Begitu juga, halnya dengan ibadah puasa–yang sebentar lagi kita laksanakan–akhir dari puasa adalah menjadi “bayi”. Mengapa demikian? Perlu direnungi secara dalam makna puasa di sini. Tanpa merenungi maknanya, maka puasa hanya mendapatkan lapar dan haus belaka, demikian tutur Rasulullah. Puasa, paling tidak, artinya secara linguistik, ialah “di dalamnya ada makan malam”. Karena, kata “puasa” berasal dari bahasa Arab, yaitu “Pi/Fi” (ada, di dalam), dan “asa/asya” (makan malam). Setelah memahami secara literal, puasa diartikan dalam maknawinya. Puasa itu, merupakan napak tilas perjalanan hidup kita di alam azali (rahim ibu). Sebelum lahir, ke dunia pada bulan terakkhir, huruf-huruf ditulis dalam diri kita sebanyak 30 huruf (30 hari= satu hari ditulis satu huruf). Jadi, selama satu bulan (30 hari), 30 huruf ditulis dalam diri kita. Dan, pada waktu pagi, mulai terbit fajar, bayi–kita–yang ada dalam kandungan rahim tidak menerima makanan dari flasenta, kemudian pada sore hari–terbenam matahari, waktu Maghrib–bayi mendapatkan suplai makanan kembali dari flasenta. Itulah, napak tilas kita, yang diaktualisasikan dalam puasa selama bulan Ramadhan. Kalau telah memahami seperti ini,setiap diri kita dalam berpuasa Ramadhan, tidak akan lagi mengharapkan pahala dari semua pekerjaan ibadah di bulan Ramadhan, karena puasa merupkaan napak tilas. Sehingga perenungan napak tilas ini, seyogyanya dilakukan setiap saat, bukan sekedar bulan Ramadhan. (Ikuti Diary Selanjutnya)

Posted in DIARY | Leave a Comment »

Meditation

Posted by seq13 on May 14, 2009

The whole of the world today is full of worries, anxieties and tension. We may not be able to eliminate all problems from the world. But through true meditation, we ourself can attain peace and happiness.

Meditation, once associated only with Saints and Mystics, is sweeping the globe. Never before have so many felt need to search for personal fulfilment within. Meditation is the route to know that who we really are !!! It is a natural state but we have forgotten how to reach it. It is a science where experiments are done within and alone, it eliminates dependence on outer materialistic world for happiness.

Meditation is being prescribed by medical community also to help us deal with daily stress. By meditation our physical, mental and emotional health improves. It brings peace, joy and bliss to our lives. It is a powerful tool for spiritual growth.True meditation liberates us from reincarnation and death becomes a joy.Then soul rests in permanent peace forever.

One can meditate anywhere, anytime. Your own home may become the best place for this.

But one can not practice meditation by his own. It is wastage of his time and energy. None can deny that we need a teacher in every field of learning. Meditation, evidently, is the most entricate among all the arts and sciences. Therefore, we must seek the help of one who has crossed all internal heavens (spiritual planes) and is on our level as well as on the Lords and he is the True living Master. The initiation granted by him helps the initiates at every step in their spiritual journey. He is permanently connected with the Powerhouse of the holyname and divine light. He always emits the rays and all others absorb as per their receptivity. He is the God-in-man and according to Christ he is ‘Word made flesh’. http://www.radhaswamidinod.org/meditation.htm

Posted in RELAKSASI | Leave a Comment »

Huzur Maharaj Sawan Singh

Posted by seq13 on May 14, 2009

Huzur Maharaj Sawan Singh Ji
The human body is a cage. Within it is imprisoned the spirit or soul, which is like a bird in a cage. The bird is in love with the cage and is always singing songs of attachment for the earth. If, however, the covers, or bodies, are cast off from the soul, the bird begins to taste the Truth, and the cage is shattered into fragments. The bird then flies away to its home, which is in Sach Khand [the Realm of Truth]…When the veils are torn, millions of enrapturing joys which constitute the “peace that passeth understanding,” are all attained.

Huzur Sawan Singh (1858-1948)

Whatever the earth may temporarily offer us as human beings, one thing is certain: it is not our permanent home. Regardless of scientific and technological advances, the physical universe as we know it will sometime be unable to sustain life, either reaching a point of maximum entropy (a degradation of matter and energy to an ultimate state of inert uniformity) or collapsing in upon itself, taking in its course every living creature. Despite the misplaced hopes of evolutionists, humankind has a limited future-perhaps only a few million years. We are, in fact, only visitors to a land that is destined to die.

Where, then, is our true home? According to genuine mystics from both East and West, humanity’s real abode is neither physical or mental but wholly spiritual. That is, we are denizens of an infinite realm of light and love who have lost sight of our essential nature, mistaking a drop for an ocean, a shack for a kingdom, a stone for a jewel. As Ken Wilber eloquently writes: “In the beginning there is only Consciousness as such, timeless, spaceless, infinite and eternal. For no reason that can be stated in words, a subtle ripple is generated in this infinite ocean. This ripple could not in itself detract from infinity, for the infinite can embrace any and all entities. But this subtle ripple, awakening to itself, forgets the infinite sea of which it is just a gesture. The ripple therefore feels set apart from infinity, isolated, separate.” As ripples in this infinite sea of awareness, we have grasped that which is impermanent: the body and the world. An authentic master is one who has fully realized his/her prior oneness with the ocean (Transcendent Reality) and who manifests it in his/her outward life.

Huzur Sawan Singh (1858-1948), honorifically called the Great Master of Beas, was such a realized soul. From early childhood he was irresistibly drawn to seek the eternal abode. Born in a Sikh family, Sawan was brought up with the sacred scriptures of his religion, the Guru Granth Sahib (a compilation of mystical poetry written by the Sikh gurus and other Indian and Persian mystics) which spoke at length about an inner music and light that lead a soul back to God. Deeply religious, Sawan Singh associated with a number of holy men whom he questioned about the nature of man’s spiritual quest. None of these mystics could satisfy his longing. Sawan was looking for a master of the highest degree. Ironically it was the Satguru (true spiritual teacher) who found him instead. Sawan Singh recalls: “I was fond of Satsang and Parmarth [spiritual topics] from my childhood. I often associated with sadhus and religious people… Later I was transferred to Murrie Hills. One day as I was supervising my work, I saw an old Sikh going up a hill with a middle-aged lady… Little did I think that he was going to be my master. He was no other than Baba Ji himself [Baba Jaimal Singh, one of the spiritual successors to Shiv Dayal Singh, the founder of Radhasoami] and the lady was Bibi Rukko. This I did not know at the time but found out later that Baba Ji said to Bibi Rukko, referring to me, ‘it is for his sake that we have come here.’ To which Bibi Rukko replied: ‘But he has not even greeted you.’ Baba Ji said to her, ‘What does the poor fellow know yet? On the fourth day he will come to us…’ On the fourth day I went to attend Satsang [the meeting of Baba Jaimal Singh]… After several conferences with Baba Ji I was thoroughly convinced and received Initiation [into the secrets of surat shabd yoga] from him on the 15th day of October, 1894.”

The turning point in Sawan Singh’s life came when he met his spiritual guru, Baba Jaimal Singh, and took initiation under him in the path of surat shabd yoga (union of the soul with the divine inner sound). Such was Sawan’s readiness that in just over nine years he became an acknowledged master within the Sant Mat and Radhasoami traditions. In fact, except for Maharaj Charan Singh, the Satguru at Beas from 1951 to 1990, Sawan Singh attracted the largest following of any shabd yoga master in history, initiating more than 125,000 people into the mystic practice.

It is impossible to understand Huzur Sawan Singh’s spiritual achievements without first noting that they were due to his close and devoted relationship with his guru. Baba Ji looked after Sawan’s worldly and spiritual welfare, stressing the need to transcend the physical frame altogether and attach one’s consciousness to the inner light and sound which reverberates at the third eye. By following this stream of celestial currents, the soul gets release from the body/mind and ascends toward its real abode. Examples of Baba Ji’s teachings can be gleaned from his letters to Sawan which have been published in an exquisite book entitled Spiritual Letters. Baba Ji instructs Sawan Singh: “You are always with me. And the real form of the Satguru [True Teacher] is the Shabd [Life-Stream-via light and sound] and that is always with you. I am very pleased with you. He is always with you. You should have no fears, because kings and emperors-all- owe their power to the Lord… Wherever you go, keep in touch with me. You are my very dear child. You will go to Sach Khand [the Realm of Truth] in my company [via the Inner Shabd]… Listen every day to the Shabd Dhun with love and devotion. Make your abode therein and let your mind be merged in the Dhun [Inner Sound]. Then you will enjoy the ras [spiritual pleasure]. But it is not a thing to be described. The surat [soul] will experience and feel it.”
How did Huzur Sawan Singh succeed in reaching Sach Khand, the eternal Realm of Truth according to the Saints, which is beyond time and space? First, by coming into contact with an authentic master; second, by explicitly following the instructions of his teacher (daily meditation, pure moral life, surrender of the body/mind/soul to the living presence of Shabd, etc.); and third, by realizing experientially that his real Self is neither a body nor a mind but an effulgent wave of Consciousness.

Because of the soul’s age-old attachment to the body/mind, spiritual awakening manifests in a series of stages which take the form, more or less, of an inner journey. Thus the path of light and sound entails leaving the physical body at will and entering into the subtle regions of existence hitherto unexplored by human beings. To do this, one must penetrate the veil of darkness behind the eye center (variously termed the third eye, the inner door, the single eye) while living, so that when physical death comes, the soul will not be duped into settling for one of the lesser regions of light. When Christ said 2000 years ago, “In my Father’s house there are many mansions,” the saints interpret this as reflecting the inherent hierarchy of after-life experiences.

The key to the practice of surat shabd yoga is not to be detained or led astray by any sights or sounds on the upward journey but to follow the celestial current to its terminal apex where all of creation has its transcendental source. As Huzur Sawan Singh tells one of his Western disciples: “When you sit [in meditation]… see that the mind is at rest and does not go out and unnecessarily think about other things. When, by Repetition of the Names [Simran] with attention fixed in the eye focus, you have become unconscious of the body below the eyes, then your attention will catch the Sound Current. Select the Sound resembling the church bell and discard all other sounds. Then slowly your soul will leave the body and collect in the eyes and become strong. Then fix your attention in the biggest star, so much that you forget everything else except the Sound and the star. Then this star will burst and you will see what is within and beyond. After crossing the star you will have to cross the sun and the moon [inner manifestations of light]. Then you will see the Form of the Master. When that Form becomes steady it will reply. This Form will reply to all of your enquiries and guide you to higher stages… These stars are of the first sky only, and Hindu philosophers will have spoken of seven skies [in universes of elevating degrees]… After crossing the star, the sun and the moon you will see that Form which will never leave you, not even for a moment.” Finally, the soul, unencumbered by any bodies (gross, astral or causal), will merge with the Supreme, achieving a state that defies description. The drop merges in the ocean; the wave flows back to the sea; the “I” reunites with its source.

One primary obstacle, though, in the soul’s journey back to God is that at each stage it must detach itself from the surrounding environment and ascend. In other words, to progress one’s separate identity must “die.” To go beyond this world, it is necessary to “die” to the attractions and pleasures that hold one down to the physical body. For the wave to realize its prior union with the sea, it must forego its exclusive attachment as a separate, distinct entity. Ken Wilber elaborates: “For in order to find that utter peace, the ripple would have to return to the ocean, dissolve back into radiant infinity, forget itself and remember the absolute. But to do so, the ripple would have to die-it would have to accept the death of its separate self sense. And it is terrified of this.”
It is for this very reason-the fear of “dying”-that most inhabitants of the earth do not venture beyond its domain. Falsely believing that we are natives in this land, the saints argue that we have set up a substitute for our true home in Sach Khand. Hence, as Wilber argues, we go about seeking infinity in ways that actually prevent finding it: “Instead of finding actual Godhead, the ripple pretends to be god, cosmocentric, heroic, all-sufficient, immortal.”

Huzur Sawan Singh saw through this drive to create substitutes for real transcendence and consciously surrendered his entire being to the inner Shabd. Because of his exceptional spiritual state, Sawan Singh was appointed by Baba Jaimal Singh to be his successor shortly before his death in 1903. Sawan Singh carried on his master’s mission with remarkable aptitude, spreading the message of humankind’s divine heritage throughout India.

Huzur Sawan Singh established a large spiritual colony on the banks of the Beas River in the Punjab where Baba Jaimal Singh had resided since the latter part of the 19th century. Sawan named the colony Dera Baba Jaimal Singh in honor of his master. Having been a highly placed engineer himself in the military service, Sawan built a number of large buildings at the Dera to house the increasing flux of seekers. The most impressive of these structures, the centerpiece of the Dera, is the Satsang Ghar built in the 1930s to hold satsangs (meetings) but which soon proved to be too small. (Today the Satsang Ghar is used to hold initiations.)
Sawan Singh gathered a large following of disciples from around the world. Among his devotees were Dr. Julian P. Johnson, Dr. Pierre Schmidt, Col. C.W. Sanders, Sant Kirpal Singh (founder of Ruhani Satsang), Sant Darshan Singh (founder of Sawan-Kirpal Mission), Baba Somanath, Pritam Das, and several government officials in both the British and Indian ranks.

Huzur Sawan Singh died on April 2, 1948, just days after appointing Jagat Singh as his spiritual successor. According to his devotees he was not a resident of this planet. Since childhood he had known that his real home was beyond the spatial limitations of the universe. He was a native of Sach Khand, the Eternal Realm of Truth, a saint who showed humanity that their origin was not of dust but of light-an unquenchable flame that burns in every living being for that alone which is everlasting.

Notes
• 1. Huzur Maharaj Sawan Singh, Discourses on Sant Mat (Beas:
• Radha Soami Satsang, 1970).
• 2. Ken Wilber, The Holographic Paradigm and Other Paradoxes (Boulder: Shambhala, 1982), page 161.
• 3. Huzur Maharaj Sawan Singh, Spiritual Gems (Beas: Radha Soami Satsang, 1974), pages 3 and 8.
• 4. Baba Jaimal Singh Ji Maharaj, Spiritual Letters (Beas:
• Radha Soami Satsang, 1984), page 37.
• 5. Huzur Sawan Singh, Spiritual Gems, op. cit.
• 6. Ken Wilber, op. cit., page 161.
• 7. See Juergensmeyer’s Radhasoami Reality (Princeton University Press, 1991) and this author’s The Radhasoami Tradition: A Critical History of Guru Successorship (New York:
• Garland Publishing, 1992) for more information about the history of Radhasoami and shabd yoga.

http://vclass.mtsac.edu:930/phil/saint.htm

Posted in MAHA GURU | Leave a Comment »

Habib Râis Ridjaly bin Hasyim Bin Thahir AQ.

Posted by seq13 on May 14, 2009

Habib Rais Ridjaly bin Hasyim Bin Thahir AQ.

Habîb Raîs diahirkan hari Kamis, 11 Agustus 1960, pukul 15.30 WIT, di Daerah Batu Merah, Ambon Maluku, Indonesia. Masa pendidikan formalnya dilalui sejak 1964–1987.

Semasa kecil selalu membaca buku–buku yang membahas tentang Filsafat. Sehingga pada usia 7 tahun, Habîb Raîs telah membaca buku filsafat, “Alam Pikiran Yunani“, sebanyak 20 jilid, dan pada usia tersebut, Habîb Raîs diberikan pendidikan oleh orang tuanya sendiri melalui metode ceritera tentang Abû Nawâs (Mansyûr bin Mu h ammad) yang hidup pada jaman Sulthân Hârûn al-Rasyîd, di Bagdad. Habîb Raîs, pada masa itu, telah menghafal ± 100 judul ceritera tentang kecerdikan Abu Nawas tersebut.
Pada usia 14 tahun (1974), Habîb Raîs dibimbing secara ruhani dengan bentuk yang masih sederhana oleh orang tuanya sendiri. Dan orang tuanya, sekarang, mendirikan tharîqat yang disebut “Tharîqat Taufîqiyyah An-Nûriyyah“ atau beliau istilahkan juga dengan “Tharîqat Ahlûl Bait” yang bersumber pada keilmuan tentang Hakikat dan Ma’rifatullah.

Pada usia 17 tahun (1977), Habîb Raîs diberikan suatu pemahaman tentang pohon keyakinan agama oleh orang tuanya sendiri, yang akrab dipanggil Abah . Kata orang tuanya; “ Sekalipun kepalamu putus, keyakinan ini tidak boleh engkau lepaskan karena inilah kebenaran yang hakiki itu “.

Tahun 1980, Habîb Raîs menyelesaikan pendidikan lanjutan atas di kota Sorong, Irian Jaya. Dan tahun 1982 mengambil perkuliahan di Universitas Kristen Indonesia (UKI), Fakultas Hukum Perdata. Perkuliahan dapat diselesaikan pada tahun 1987, non Skripsi serta tanpa Wisuda Keserjanaan, dengan alasan bahwa biarlah para teman-temannya mengambil Wisuda dan Ijazah keserjanaan, tapi beliau akan menghambil Wisuda dan Ijazah SIR-JANNAH (Rahasia Sorga), dan bukan Sarjana.

Akhirnya, terbukti, pada saat teman sekuliahnya sedang mengusahakan pemutihan atas keterlambatan pelajaran mereka pada Universitas, karena terjadi peralihan sistim pendidikan dari sistim Paket kepada sistim SKS, Habîb Raîs pun pada masa itu menerima Khirqah dari WaliyulLâh Syekh Yûsuf Tuanta Salamaka Tâjul Khalwati Abû Al-Ma h âsin Al-Maqâsari r.a. y ang hadir bersama Tuanta Imam Lapeo dan Tuanta Masakilang Karaeng Bogo sebagai saksi. Kata Syekh Yûsuf Tuanta Salamaka; Pemberian ini atas ijin dan perintah dari Tuan kami, Syekh ´Abdul Qâdir Al-Jailâni yang tinggal di Bagdad“.

Inilah yang disebut SIR-JANNAH (Rahasia Surga) dan bukan SARJANAH (sepotong kertas yang tidak menjamin keselamatan dunia maupun akhirat). Selain Gurunya Tuanta Salamaka Syekh Yûsuf, Habîb Raîs juga belajar pada guru-guru yang hidup dimasanya sekaraag yaitu:

Sekilas Tentang Guru-gurunya
Banyak sekali para guru yang ditemuinya, tapi ada beberapa guru saja yang Habîb Raîs berbaiat kepada mereka untuk menjadi murid mereka dalam hal keilmuan tentang Haqîqatul Insân dan Ma´rifatulLâah beserta segala ilmu pemahamannya yang terkait erat dalam rangka pengenalan yang dimaksud;
1. Habîb Hâsjim bin Husein bin ´Ali bin ´Abdurrahmân bin ´Abdullâh (Shâ h ibul Masilah Hadralmaut ) bin Husein Bin Thâhir (Maulâ Bin Thâhir).
2. Tuan Syekh Musthafâ bin Syekh Mu h yidîn (1967–1992).
3. Habîb Muhammad bin ´Abdullah bin ‘Umar Al-Idrûs Tanjung Batu Merah, Ambon, Maluku, Indonesia. (Kakek Ibunya Syarîfah Thalhah binti ´Abdullâh bin Muhammad bin ‘Umar Al-Idrûs).
4. Tuan Syekh Yusuf yang bergelar Tuanta Salamaka Tâjul Khalwâti Abû Al-Mahâsin Al-Maqasari (1987–1991).
5. Tuan Imam Lapeo asal dari Poliwali Mamasa (Polmas), Sulawesi Selatan (1987–1992).
6. Habîb Muhammad Al-Gadri, yang dikenal dengan sebutan Habîb Marunda (1993–masih sampai sekarang tahun 2003).
7. Beberapa Guru asal Jawa Timur yang sangat dalam ilmu kebatinannya (1995).
8. Beberapa Guru asal Jawa Tengah yang sangat dalam Ilmunya tentang pengenalan akan Hakikat dan Ma’rifatullâh (1995).
9. Seorang guru dari Beas India yang sangat Masyhur namanya di kalangan Lintas Agama seluruh Dunia, yaitu Hazur Maharaj Charan Sing Ji (1983–1985).
10. Syekh Hârûn al-Rasyîd yang akrab dipanggil dengan nama Syekh Faye dari Sinegal (awal 2003–sekarang ini).

Sekilas tentang Guru – gurunya
1. Habîb Hâsjim Bin Husein Bin Thâhir; Orang Tuanya sendiri, yang menguasai perbendaharaan Ilmu Hakikat dan Ma’rifatullâh yang tuntas secara keilmuan, menguasai Ilmu peralihan bahasa Arab kepada bahasa Indonesia, dan beliau adalah salah satu manusia yang selama hidupnya mencatat setiap mimpinya tanpa terlewati seharipun, lengkap dengan hari, tanggal, jam dan detik. Mimpi-mimpinya itu ialah tentang pengkabaran pemahaman Ilmu Hakikat dan Ma’rifatullâh, serta segala kejadian yang belum terjadi di negara Indonesia maupun diseluruh dunia. Sebagai contoh, beliau bermimpi bahwa: Amerika akan dikejutkan oleh suatu ledakan yang sangat dahsyat sekali . Setelah sekian puluh tahun, ternyata, terjadilah kejadian 11 September 2001. Dan dalam jarak 20 tahun, sebelum kejadian, beliau bermimpi tentang Amin Rais , bahwa Pimpinan Muhammaddiyah pusat bernamanya Ikrâman Mahbûb , 5 tahun kemudian beliau bermimpi lagi bahwa yang disebut Ikrâman Mahbûb adalah Amin Rais, yang waktu itu masih bersekolah di Luar Negeri. Ternyata beberapa tahun kemudian Amin Rais menjadi Pimpinan Muhammadiyah Pusat, dan kemudian menjadi Ketua MPR. Inilah Jabatan yang termulia di negeri ini ( Ikrâman Ma h bûb = yang mulia lagi dicintai) ternyata mimpinya itu, sangat tepat kejadiannya beliau telah diberitahukan lebih dahulu lewat mimpi-mimpinya.

Habîb Hâsjim diangkat langsung sebagai murid oleh Syekh ´Abdul Qâdir Al-Jailâni r.a. pada tahun 1967 di Desa Waras-waras, Seram Timur, Maluku, Indonesia. Kehadiran Tuan Syekh ´Abdul Qâdir Al-Jailâni r.a sangat mengagumkan sekali, dengan pengawalan yang cukup ketat dari kalangan bangsa Ruhani dan bangsa Jin Islam yang ta’at pada perintah AlLah SWT. Kebenaran kehadirannya, sudah barang tentu, dengan segala tanda-tanda yang dapat dipercaya tentang kebenaran kehadiran tersebut. Dari sinilah, Habîb Hâsjim dibimbing secara terus menerus selama 26 tahun (1967– 1993). Semua perintah Syekh ´Abdul Qâdir Al-Jailâni r.a, yang datang secara ruhani, dicatat dengan terperinci. Begitu juga, segala isi pembicaraan para Ruhani dengannya, tidak luput ditulisnya. Hal ini bertujuan, untuk kemudian hari, dijadikan pelajaran bagi anak-anaknya serta orang lain tentunya.

2. Habîb Muhammad bin ´Abdullâh bin ‘Umar Al-Idrûs; Seorang WaliyulLâh yang sangat besar kemuliaannya dimasa kehidupannya. Habîb Muhammad ialah seorang pejuang kemerdekaan dalam menentang kaum penjajah, Belanda. Belanda mengasingkan Habîb Muhammad dari kota Semarang ke pulau Kupang, di sanalah Habîb Muhammad menikah. Dan saat istrinya sedang hamil, Habîb Muhammad diasingkan lagi ke Ambon. Habîb Muhammad menamakan anaknya dalam kandungan istrinya yang ditinggalkan di Timor, Kupang, dengan nama Abdul Rahmân. S telah Habîb Muhammad tiba di kota Ambon, kampung Batu Merah, maka beliau mendapatkan sebuah gundukan tanah di bawah tempat tidurnya. Beliau pun mengatakan, inilah anaknya yang bernama Habîb ´Abdul Rahmân telah lahir di Timor, Kupang, dan AlLâh SWT telah mengembalikannya langsung keharibaan-Nya.

Kemudian, gundukan tanah tersebut dipindahkan ke atas bukit. Menjadilah ia suatu Makam, yang pada masa itu mengeluarkan cahaya terang pada setiap malam Jum’atnya, dan akhirnya oleh masyarakat dikenal dengan nama Karamat Tanjung Batu Merah Ambon.
Habîb Muhammad setiap harinya menyusun perlawanan terhadap Penjajah Belanda di Kota ambon, maka beliau diasingkan ke Solo, Jawa Tengah. Di sana beliau kembali kepada keharibaan-Nya, AlLâh SWT. Saat dikuburkan dan setelah ditutup tanahnya, dan saat hendak disiramkan air di atas kubunya, ternyata kuburannya telah lenyap tanpa meninggalkan bekas sedikitpun, sementara tempat bekas galian itu menjadi seperti sebelum digalikan kuburannya. Semoga AlLâh senantiasa memberi rahmat yang besar kepada beliau khususnya. Amin yâ rabbal ‘Âlamîn.

3. Tuan Syekh Musthafâ bin Syekh Muhyiddîn ; Berasal dari bangsa Ruhâni yang sangat besar kekuasaannya. Syekh Musthafâ telah datang kepada kedua orang tua Habîb Raîs, tahun 1967, di bawah perintah AlLah SWT. serta di bawah pengawasan Syekh ´Abdul Qâdir Al-Jailâni r.a beserta pendamping–pendampingnya yang lain, di antaranya Tuan Syekh ‘Ali, Tuan Syekh Shaleh dan sebagainya.

Mereka semua datang untuk membimbing kedua orang tua Habib Rais serta semua anak-anaknya, termasuk Habîb Raîs sendiri untuk tetap selalu berada dalam kebaikan AlLâh SWT. dan barakat para wali-Nya. Jadi, sejak Habîb Raîs berusia 6 tahun sudah berada dalam suasana keakraban dengan para wali AlLâh dan para ruhani–ruhani-Nya. Dan tahun 1992, Tuan Syekh Musthafâ serta para pendampingnya mengatakan, bahwa misi mereka dari AlLâh SWT. untuk pertama ini telah selesai. Maka, kami nanti akan kembali semuanya kepada H abib Rais. Kami datang dari tahun 1967 dan sampai akan kami kembali kepada Habîb Rais. Ini semua adalah karena Barakat yang senantiasa mengalir dari kemuliaannya Habib Muhammad bin ´Abdullah bin ´Umar Al-Idrûs karamat Tanjung Batu Merah Ambon ). Secara kebetulan, saat kalimat perpisahan dari para Ruhani ini kepada orang tua Habîb Raîs ( Habîb Hâsjim), Habîb Raîs berada bersama kedua orang tuanya (mudah-mudahan AlLâh SWT mengembalikan bangsa Ruhani itu kepada Habib Rais dengan misi yang lebih baik dan berguna kepada kita semuanya khususnya, dan kepada kemanusiaan pada umumnya. Amin yâ rabbal ´Âlamîn ).

4. Tuan Syekh Yûsuf Tuanta Salamaka; Pimpinan para wali di wilayah Sulawesi Selatan, yang dikenal dengan istilah Wali Pitu (wali tujuh). Beliau telah hadir dalam suatu “Nûr” yang sangat cemerlang sekali, dan beliau mengatakan, kehadirannya ini di bawah perintah AlLâh SWT dan di bawah pengawasan Tuan Syekh ´Abdul Qâdir Al-Jailâni r.a . Hal khusus yang diajarkannya yaitu mengenai “ Bagaimanakah seseorang bisa dapat berhubungan dan meminta langsung kepada AlLâh SWT ”. Selama ini mayoritas orang menyangka, mereka telah dapat berhubungan dan meminta langsung kepada AlLâh SWT. dengan hanya mengatakan “ Ya AlLâh saya begini dan begitu ….’ , mereka menyangka dengan hanya mulutnya menyebut kata AlLâh SWT, maka itu berarti sudah meminta langsung kepada AlLâh SWT. Semua ini harus dengan pengetahuan dan keilmuan serta i´itikad yang kuat sebagaimana para Wali-Nya telah diperbuat. Maka beliaupun dengan ijin AlLâh SWT. dan dengan pengawasan yang ketat dari Tuan Syekh ´Abdul Qâdir Al-Jailâni r.a, beliau memberikan pengajaran tersebut kepada Habîb Raîs, selama 9 bulan. Habîb Raîs mengikuti—dari hari ke hari—pengajaran tersebut, dan dengan kecerdikannya maka beliau dapat menangkap semua pengajaran tersebut.

5. Tuan Imam Lapeo r.a; Dengan ijin AlLâh SWT. dan di bawah pengawasan Tuan Syekh Yûsuf Tuanta Salamaka r.a, beliau mengajarkan kepada Habîb Raîs beberapa Ilmu Hikmah; penggunaannya menyangkut HURUF atau dengan kata lain ilmu tersebut dinamakan Asrâru’l Hurûf , dan beliau bersama Tuan Syekh Yûsuf Tuanta Salamak r.a berjanji kepada Habîb Raîs, bahwa mereka akan kembali kepada Habîb Raîs saat umurnya sudah bertambah (saat itu Habîb Raîs berumur 27 tahun). Mungkin maksudnya kalau sudah lebih matang dalam keilmuan tentang ketuhanan.

6. Habîb Muhammad Al-Gadri; Beliau dikenal dengan sebutan Habîb Marunda. Kalau ada orang yang menanyakan namanya, maka dengan cepat beliau menjawab“ nama saya habib gila “. Habîb Marunda membangun Padepokan di Marunda. Majelisnya diadakan setiap malam Jum’at; Dzikir yang dibacakan mulai jam 00.00 tengah malam sampai dengan selesai lebih kurang 3 jam 03.00.
Habîb Marunda telah memantapkan keyakinan Habîb Raîs tentang ilmu dan keilmuan yang ada pada diri Habîb Raîs itu sendiri, dengan diangkatnya Habîb Raîs menjadi anaknya (dibai´atnya pada tahun 1993). Habîb Marunda, seorang yang sangat teguh dalam prinsipnya, kalimat-kalimatnya tidak pernah memperlihatkan ada kekhawatiran pada hati beliau-beliau. Bersama Habîb Marunda, Habîb Raîs telah dibawa keberbagai daerah untuk mengunjungi tempat–tempat yang baik dan mulia. Dan bersama beliau pula, Habib Rais mendapat banyak pengalaman batin yang sangat besar dan baik. Mudah-mudahan AlLâh SWT dan para wali-Nya memberkati beliau selalu. Amin ya Rabbal Alamiin.

7. Guru–guru dari Jawa Timur; Mereka mengajarkan kepada Habîb Raîs tentang hal pandangan batin ataupun tentang penampakan makhluk halus yang selama ini menjadi gaib bagi kebanyakan orang awam. Dari ilmu yang diajarkan itu, banyak hal yang gaib dapat dilihat secara kasat mata.

8. Guru–guru dari Jawa Tengah; Mereka mengajarkan kepada Habîb Raîs, ilmu yang telah didudukan lebih dahulu dasarnya oleh Abahnya sendiri, Habîb Hâsjim Bin Thâhir, yaitu tentang Ilmu Tiga . Barangsiapa tidak menguasainya secara benar dan mendalam sampai tuntas pendapatannya, maka ia akan hidup sia–sia di dunia maupun di akhirat kelak; Ilmu Takbîratul Ihrâm (Ilmu Shalat) – Ilmu Nisâi (Ilmu Perkawinan) – Ilmu Sakarâtul Maut (Ilmu untuk kembali hidup setelah mati ).

9. Hazur Maharaj Charan Sing Ji; Seorang guru besar dari Beas India. Maharaj mengajarkan suatu metode untuk mendengar suara di dalam diri setiap orang. Pengajarannya lebih menekanan pada Dzikir Lima Nama Suci (Kontempelasi). Habîb Raîs mengambil inisiasi kepadanya dalam rangka mendapatkan sebuah perbandingan Agama atau Keilmuan dari para Guru yang dipandang masyhur oleh minimal murid-muridnya, apalagi oleh manusia diberbagai negara di dunia ini.

Pengambilan guru tersebut oleh Habîb Raîs pada tahun 1983, dan setelah 3 bulan mengikuti ceramahnya, Habîb Raîs diterima untuk diinisiasi pada tahun 1983 itu juga. (Ini adalah sesuatu di luar kebiasaan yang terjadi di kalangan majelis ini. Karena seseorang yang dapat diterima untuk diinisiasi oleh Guru yang dipanggil dengan sebutan Sat Guru itu, adalah minimal yang sudah mengikuti semua disiplin dalam majelis ini selama 2 tahun. Disiplin itu di antaranya, harus senantiasa mengikuti ceramahnya yang disebut Satsang, harus vegetarian (makan yang tidak bernyawa) selama 2 tahun dan minimal sudah membaca sekian judul buku-bukunya, barulah boleh mengajukan Surat Permohonan untuk diinisiasi kepada Sat Guru. Perkara diterima atau tidak diterima semuanya tergantung dari penilaian Sat Guru itu sendiri).

Tapi untuk Habîb Raîs yang baru 4 bulan mengikuti Ceramah/ Satsangnya, telah dapat diterima untuk diinisiasi. Bahkan dari sekian ribu orang yang mengajukan permohonan untuk diinisasi saat itu, ternyata yang diterima saat itu, adalah hanya 33 orang, dan bahkan nama Habib Rais lah yang tertulis pada urutan yang pertama (teratas). Pada keilmuan di majelis ini, setiap orang yang diinisiasi menjadi Murid (atsangi), maka ia diberi Lima Nama Suci yang harus diulang-ulang (Dzikirkan) dalam setiap harinya dalam Simran (kontempelasi) dan Bayan (Mendengarkan suara).

10. Syekh Harûn al-Rasyîd (Syekh Faye); Beliau adalah seorang Mursyid Tharîqat Murîdiyyah–Musthafâwiyyah, dan beberapa tharîqat lainnya. Syekh Faye sangat masyhur di daerah Afrika. Syekh Faye mempunyai banyak murid di Sinegal, asal daerah kelahirannya, serta di Amerika dan sebagainya. Habîb Raîs berbaiat kepada Syekh Faye pada awal tahun 2003. Atas bimbingan Syekh Faye, Habib Rais telah melakukan khalwat selama 5 hari di gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, dan mendapatkan Natijahnya dengan sangat baik. Kemudian Syekh Faye melanjutkan beberapa pelajaran yang sangat besar nilainya kepada Habîb Raîs. Mudah-mudahan AlLâh SWT. senantiasa memberikan perlindungan dan barakat selalu kepada beliau dan keluarga serta semua pengikutnya di dunia sampai yaumil ma’syar. amin ya rabbal alamiin .

Posted in MAHA GURU | 5 Comments »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.