Padepokan "GADUNGMERAH" Virtual

Padepokan Ini Telah Berubah Menjadi www.padepokanvirtual.com

Bagaimana Menjadi “Anak”; Bagian Kedua

Posted by seq13 on February 25, 2009

Beberapa pesan dari ritualitas ibadah, ada yang menjadikan, bahwa apabila seseorang melakukannya dengan tepat, ia akan menjadi seperti “bayi” lagi. Contohnya, pelaksanaan naik haji, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang melakukan naik haji, tidak berbuat keji dan fasik, maka orang itu akan kembali menjadi “bayi”.” Artinya, ritualitas haji, kalau dijalankan dengan benar dan tepat, sesuai tuntutan Rasulullah, secara langsung ia akan meraih kebaikan yang kembali pada dirinya, yaitu menjadi “bayi”. Bayi di sini, bukan berarti makna bayi secara literal, melainkan “bayi” makna demikian Syeikh Abdul Qadir Jailani berpendapat. Atau, “bayi” tersebut, dalam bahasa Al-Qur’an diartikan dengan “rasul”. Temuilah “bayi” maknamu dalam diri, sudah barang tentu, bukan di luar dari diri. Barangsiapa mencari segala sesuatu dari dalam diri, ia akan menemukannya, pasti. Titik. Tapi, sebaliknya, barangsiapa mencari sesuatu di luar dari dirinya, ia tidak akan menemukan, abadan,abadan (selamanya).

Begitu juga, halnya dengan ibadah puasa–yang sebentar lagi kita laksanakan–akhir dari puasa adalah menjadi “bayi”. Mengapa demikian? Perlu direnungi secara dalam makna puasa di sini. Tanpa merenungi maknanya, maka puasa hanya mendapatkan lapar dan haus belaka, demikian  tutur Rasulullah. Puasa, paling tidak, artinya secara linguistik, ialah “di dalamnya ada makan malam”. Karena, kata “puasa” berasal dari bahasa Arab, yaitu “Pi/Fi” (ada, di dalam), dan “asa/asya” (makan malam). Setelah memahami secara literal, puasa diartikan dalam maknawinya. Puasa itu, merupakan napak tilas perjalanan hidup kita di alam azali (rahim ibu). Sebelum lahir, ke dunia pada bulan terakkhir, huruf-huruf ditulis dalam diri kita sebanyak 30 huruf (30 hari= satu hari ditulis satu huruf). Jadi, selama satu bulan (30 hari), 30 huruf ditulis dalam diri kita. Dan, pada waktu pagi, mulai terbit fajar, bayi–kita–yang ada dalam kandungan rahim tidak menerima makanan dari flasenta, kemudian pada sore hari–terbenam matahari, waktu Maghrib–bayi mendapatkan suplai makanan kembali dari flasenta. Itulah, napak tilas kita, yang diaktualisasikan dalam puasa selama bulan Ramadhan. Kalau telah memahami seperti ini,setiap diri kita dalam berpuasa Ramadhan, tidak akan lagi mengharapkan pahala dari semua pekerjaan ibadah di bulan Ramadhan, karena puasa merupkaan napak tilas. Sehingga perenungan napak tilas ini, seyogyanya dilakukan setiap saat, bukan sekedar bulan Ramadhan. (Ikuti Diary Selanjutnya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: