Padepokan "GADUNGMERAH" Virtual

Padepokan Ini Telah Berubah Menjadi www.padepokanvirtual.com

Bagaimana Menjadi “Anak”; Bagian Pertama

Posted by seq13 on February 25, 2009

“Engkau tidak mengenal Aku (Yesus), barangsiapa mengenal Aku, maka ia mengenal Bapakku yang di Sorga. Barangsiapa yang memeluk anak (kemudian IA memeluk seorang anak) begini (sambil memperagakannya di hadapan para sahabat), maka ia telah memeluk Aku (Yesus). Jadilah Anak, maka engkau akan mengetahui siapa engkau. Ujar Yesus.

Ucapan Yesus terhadap para sahabatnya yang dimuat dalam Alkitab di atas, telah banyak menginspirasi saya dalam merenungi diri. Dari mulai ini, saya senantiasa menjadikan Anak (terutama anak sendiri) sebagai sumber inspirasi dan ide dalam memahami dan mengetahui eksistensi AKU yang bersemayam dalam diri.

Karena, Anak kita dijadikan hidup kembali. Barangsiapa tidak menjadi anak kembali, maka ia tidak akan terlahir kembali. Demikian tegas Yesus dalam Alkitab. Anak, hakikatnya, adalah diri Bapaknya. Kata “Anak”, berasal dari bahasa Arab; “ana” artinya “saya”, kemudian diakhiri dengan huruf “k” yang menunjukkan pada kata ganti kedua tunggal (artinya, kamu). Jadi, kata “anak” artinya, “saya ini adalah kamu”. Wajar kalau ada hadits yang menyatakan, bahwa “anak adalah rahasia bapaknya”. Rahasia kedua orangtua (suami-istri) terekspresikan dalam diri seorang anak. Anak merupakan penyatuan sifat dan karakteristik dari kedua manusia (suami-istri). Dalam diri anak, kita tidak dapat melihat kembali perbedaan, yang mana ciri bapaknya dan yang mana ciri ibunya, semuanya telah melebur menjadi satu, dalam nama “anak”. Mengapa demikian?

Ilustrasi sederhana ini, sebenarnya, kalau kita mau merenung, dapat dijadikan sebagai media formulasi memahami ketauhidan kita terhadap Yang Maha Wujud. Kita telah dan selalu bersama dengan-Nya, di mana dan kapan saja. Demikian Al-Qur’an bertutur. “Dia bersama kamu di mana saja kamu berada”. Tapi,kapan menjadi samanya. Dalam keseharian selalu bersama, tapi kita belum sama. Seperti halnya, pasangan suami-istri, dalam setiap hari selalu bersama. Namun, belum sama. Kapan kira-kira kita tidak dapat lagi membedakan antara suami dan istri. Sudah jelas, yaitu pada diri anak. Sudahkah Engkau pahami ketauhidanmu?

Anak tidak memiliki problem kehidupan. Setiap keinginannya, sudah pasti dipenuhi oleh orangtuanya, sesuai dengan kemampuan orangtua dan umur si anak. Nah, kira-kira bagaimana, sehingga kita menjadi anak. Segala kebutuhan kita terpenuhi oleh Tuhan, tanpa tedeng ali-aling. (Ikuti Bagian Kedua)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: