Padepokan "GADUNGMERAH" Virtual

Padepokan Ini Telah Berubah Menjadi www.padepokanvirtual.com

Menuai “Rahmat” Bukan “Laknat”

Posted by seq13 on March 23, 2009

Rabu, 2007 Oktober 24

“Pemerintah tidak boleh tinggal diam. Pemerintah harus segera menghentikan gerakan ini, usut dan tangkap pelakunya, termasuk siapa yang berada di belakang gerakan ini semua.” (Republika, 25/10/2007).

Statemen di atas, disampaikan oleh Rais Tanfidh Nahdatul Ulama, KH. Hasyim Muzadi, yang mengomentari terhadap berkembangnya organisasi Al-Qiyadah Al-Islamiyah, pimpinan Ahmad Moshaddeq. Setelah membaca pernyataan Hasyim Muzadi tersebut, yang dimuat di harian Republika, 25/10/2007, dengan tajuk PBNU Desak Hentikan Al Qiyadah Al Islamiyah, penulis tersentak dan termenung cukup lama, dan bertanya-tanya dalam benak pikiran, mengapa statemen itu harus keluar dari mulutnya orang bijak, yang memimpin ORMAS besar, Nahdlatul Ulama? Bukankah ia juga adalah salah satu tokoh Organisasi Lintas Agama?

Sebelum mengeluarkan pernyataannya, seyogyanya ia melakukan verifikasi dengan cara dialog bersama pendiri Al Qiyadah Al Islamiyah, sehingga mengetahui secara transfaran konsep umum tentang pemahamannya terhadap ajaran Islam. Atau mungkin, ia telah berdialog dan mengkaji dengan seksama terhadap pemahaman Ahmad Moshaddeq, dan mengambil kesimpulan bahwa Al Qiyadah Al Islamiyah adalah sesat dan merusak aqidah Islam. Parameter apakah yang dipakai oleh KH. Hasyim Muzadi dalam menilai Al Qiyadah Al Islamiyyah dan organisasi-organisasi yang memiliki kesamaan dengan Al Qiyadah adalah sesat? Saya tidak mendukung dan mengingkari terhadap pemahaman-pemahaman yang disampaikan oleh Ahmed Moshaddeq maupun lainnya, tapi saya lebih senang melakukan chek and rechek kepada sumbernya, dalam menemukan sebuah permasalahan yang sedikit banyak berhubungan dengan kepentingan publik, kemudian menarik benang merahnya dengan penuh kebijaksanaan. Metode inilah yang dipakai oleh ûlul albâb. Ketidakbijaksanaan dalam menilai pemahaman keagamaan seseorang maupun dalam sebuah payung keorganisasian, akan mendatangkan efek kurang baik bagi citra diri seseorang, dan kalau orang tersebut adalah memiliki jabatan publik, maka dapat mengurangi nilai kebaikan image organisasi.

Penyesatan bukan hanya dialami oleh Al Qiyadah Al Islamiyah, melainkan oganisasi lainnya pun nyaris mengalami yang sama, misalnya saja, beberapa bulan yang lalu, perguruan Mahesa Kurung (MK) telah disesatkan oleh Majelis Ulama Indonesia Bogor, dengan alasan—salah satunya—percaya kepada perdukunan adalah perbuatan musyrik. Begitu juga dengan Ahmadiyah yang mengakibatkan kerugian bagi jama’ahnya bukan hanya sekedar mental, tapi fisik pun dialami cukup parah oleh mereka. Sebelumnya pun, Lia Edent dihukumi sesat, dan merugikan masyarakat, sehingga ia harus “nyantri” dulu beberapa saat di “pesantrren” yang biliknya dari besi. Entah, apa dan siapa lagi yang akan menjadi obyek penyesatan. Siapa dan apa motif dibalik gerakan penyesatan yang dilakukan oleh beberapa lembaga swadaya masyarakat, selain ormas resmi? Semoga budaya ini tidak berkembang dengan cepat di bumi para waliyullah, Indonesia. Cukup hanya di ranah Arab.

Kedalaman Ajaran Islam
Makna filosofi ajaran agama Islam cukup dalam, sehingga hanya orang-orang cerdik dan pandailah yang dapat merasakan “manisnya” ajaran Islam. Ajaran Islam, kalau boleh saya ilustrasikan dengan sebuah “gitar”, ia (Islam) dapat dipetik sesuai dengan keahliannya orang memainkan gitar. Kalau petikannya dangdut, sudah jelas yang mendengarkannya pun pecinta dangdut, dan biasanya para “pengamen” di jalanan yang memetik gitar dengan nada dangdut, mendapatkan imbalan recehan. Tapi, kalau gitar dipetik dengan petikan klasik, maka yang menikmatinya juga, adalah orang-orang tertentu yang menyukai musik klasik. Musik klasik, realitasnya, dimainkan hanya di gedung-gedung mewah, dan yang hadir pun orang-orang “menengah”; para pecinta musik klasik, bayarannya pun cukup mahal. Begitulah dengan ajaran Islam, kalau ajaran Islam hanya dipahami metode “pemahaman” orang-orang umum, yang terjadi seperti sekarang ini, semua orang merasa punya hak untuk menyampaikan risalah Islam, sehingga para da’i yang seharusnya menyampaikan tuntunan, tetapi yang ada hanyalah menjadi “tontonan”, masyarakat hanya senang dengan “guyonan” para da’i saja, sedangkan isinya sudah tidak diperhatikan lagi. Tidak heran, masyarakat yang telah mendengarkan ceramah para da’i tersebut, setelah pulang ke rumahnya, yang diceritakan di keluarganya, ialah cerita guyonannya da’i, bukan substansi ceramahnya.

Untuk meminimalisir agar tidak mudah keluar pernyataan dalam menilai sebuah pemahaman keagamaan, hendaknya setiap orang, terutama orang yang memiliki kedudukan penting di organisasi kemasyarakatan untuk melihat terhadap ajaran Islam dari empat dimensi; dimensi syariat, dimensi thariqat, dimensi hakikat, dan dimensi ma’rifat. Dengan empat dimensi, pemahaman ajaran Islam akan berakarkan ke bumi bercabangkan ke langit. Keempat dimensi disampaikan dengan benar dan tepat oleh para guru yang struktur keilmuannya sampai pada pembawa pertama, Muhammad SAW. (dengan memiliki legalitas spiritual yang amanah), nasab para guru juga dapat dipertanggungjawabkan (sesuai dengan bobot, bibit, dan bebetnya), dan kepribadiannya pun mencerminkan akhlak mulia, sebagaimana Rasulullah, menjadi suritauladan bagi umatnya.

Perbedaan pendapat yang mencuat di blantika pemikiran dan pergerakan, sehingga keluar fatwa-fatwa sesat dari organisasi resmi masyarakat, dikarenakan—mungkin, semoga ini tidak terjadi—para inohongnya kurang memiliki kualifikasi sebagai seroang yang berilmu “luhur”; mengenal hakikat sejati dirinya, dan mengenal Tuhannya dengan pasti, serta telah sampai pada tapal batas ketuhanan dengan sempurna. Mereka yang telah sempurna ilmu ketuhanannya dan kemanusiannya, salah satu cirinya, tidak pernah menghukumi seseorang dikarenakan perlakuannya atau pemikirannya, melainkan mereka memberikan pengarahan dengan penuh kebijaksanaan terhadap orang-orang yang dianggapnya tidak sejalan lagi dengan ajaran dan tuntunan Agama, dan mengedepankan etika berkomunikasi dengan penuh kesantunan. Siapakah tipologi ulama yang demikian?

Tuhan mencintai para hamba-Nya yang selalu mengedepankan kebijaksanaan, bukan mengedepankan hukuman. Karena dengan kebijaksanan-Nya, Allah melanggengkan kehidupan ini dengan penuh dinamikanya. Kalau kebijaksanan-Nya telah dicabut, maka entah apa yang akan terjadi? Para nabi dan rasul diutus ke dunia ini, dari mulai Nabi Adam as. sampai pada Nabi Muhammad SAW., adalah untuk menyampaikan kebijaksanaan. Mengapa kita tidak mengikuti jejak mereka?

Menuai “Rahmat” Bukan “Laknat”
Era reformasi yang membuka kran nilai-nilai demokrasi dan universal bagi masyarakat untuk dapat direalisasikan, ternyata tidak bisa dinikmati dengan penuh kebebasan, setiap orang bebas menyampaikan pendapat, bahkan dalam ranah keagamaan pun, setiap orang bebas menjalankannya sesuai dengan pemahaman keimanannya, tapi tetap berjalan dalam koridor NKRI. Nah, bagi umat Islam, kebebasan ini sebenarnya menjadi gerbang utama bagi meningkatkan nilai-nilai pemahaman spiritual dalam setiap dirinya. Bukannya seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Fatwa sesat, musyrik, bid’ah, khurafat, dan klaim lainnya malah dengan bebas keluar, dan masyarakat dipaksa untuk mengikuti pemahaman ajaran keagamaan yang telah ada. Di manakah kebebasan untuk meningkatkan nilai-nilai keagamaan dalam diri? Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar, dan hendaknya perbedaan tersebut disambut dengan peningkatan karya pemikiran, sebagaimana para cendikiawan sebelum tahun 1912.

Era reformasi hendaknya menjadi “rahmat” bagi masyarakat Indonesia, bukan menjadi “laknat” yang hanya dapat membawa ke alam keterpurukan; tidak mengenal kembali terhadap Tuhan sejatinya, yang dulu kala pernah bersaksi dengan-Nya, bahwa IA adalah Tuhannya, tetapi sekarang sudah melupakan eksistensi Tuhannya tersebut. Tuhan tidak di mana-mana, Tuhan hanya ada dalam diri manusia. Bukan seperti judul film sinetron, Tuhan Ada Di mana-mana. Bagaiamana kita mengingkari kedudukan Tuhan ada dalam diri kita sendiri, sedangkan Tuhan sendiri telah menyatakan dalam kitab suci-Nya; “Aku lebih dekat dari urat lehermu.” “Ingatlah Tuhanmu dalam dirimu.” Semua kitab suci agama-agama besar di dunia ini, menyatakan dengan jelas, bahwa Tuhan itu hanya ada dalam diri manusia. Titik. Wajarlah, kalau problematika multidimensi yang sedang menimpa bangsa Indonesia, salah satunya disebabkan oleh raknyat sudah tidak mengenal lagi terhadap Tuhan sejatinya. Syiar dakwah—bisa dibanggakan—berkembang dengan pesat di mana-mana, namun substansi agama sudah mengalami kekeringan. Spirit dakwah tidak lagi dengan mudah ditemukan dari mulut para da’i. Dinding agama telah hancur oleh umatnya sendiri, bukan hanya oleh umat lain. Ironis memang. Siapa yang dapat membangun kembali dinding agama?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: