Padepokan "GADUNGMERAH" Virtual

Padepokan Ini Telah Berubah Menjadi www.padepokanvirtual.com

Syahadat Khulafaur Rasyidin

Posted by seq13 on March 23, 2009

Rabu, 2009 Februari 11

“Syahadat kumaha, jang?” (syahadat bagaimana, dek?). Pertanyaan itu dilontarkan kepada saya, ketika bersilaturahmi dengan salah satu inohong di tataran Sunda. Beberapa menit saya terdiam, mencermati pertanyaan sederhana tersebut. Mengapa pertanyaan itu keluar dari mulut sang inohong, pikir saya dalam hati. Bukankah semua orang telah tahu, bagaimana mengucapkan syahadat? Tegas saya dalam hati lagi. Belum dijawab oleh saya, atas pertanyaan itu. Ia menerangkan, bahwa yang dimaksud kata dari “syahadat”, bukanlah bagaimana kalimat syahadat diucapkan, melainkan kata “syahadat” di sini, ialah merupakan kata sunda, yang terdiri dari dua kata, yaitu “syaha” dan “dat”. Syaha (tanpa huruf “y”) dalam arti bahasa Sunda, adalah “siapa”, sedangkan “dat” (maksudnya ialah “dzat”). Jadi “sahadat” ialah “siapakah dzat itu?”. Esensi dari syahadat, tuturnya lagi, bagaimana seseorang mengetahui dengan pasti terhadap eksistensi Tuhan. Bukan sekedar pandai mengucapkan kalimat syahadat. Semua orang, tanpa melihat agama, dan umur, dapat mengucapkan kalimat tersebut, bahkan terkadang sekarang ini, anak-anak yang belajar di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) fasih dalam mengucapkan dua kalimat syahadat daripada orang-orang yang telah berumur. Dan ironisnya lagi, burung beo pun pandai mengucapkan kalimat syahadat, tapi tidak mengetahui terhadap makna yang diucapkannya.

Ketidakpahaman terhadap makna syahadat, bukan dialami oleh beberapa orang saja, tetapi sebagian besar Muslim, belum “sempurna” dalam memahami kalimat syahadat. Ketidaksempurnaan ini, mungkin, didasarkan oleh beberapa faktor. Pertama, sudah merasa bahwa dengan mengucapkan an sich dua kalimat syahadat, berarti telah selesai bersyadahat. Kedua, para da’i tidak menjelaskan lebih lanjut terhadap urgennya memahamai kalimat syahadat. Ketiga, informasi hakikat syahadat tidak disampaikan dengan sempurna oleh para da’i, dikarenakan “keterbatasan” informasi.

Faktor pertama menimpa pikiran masyarakat, karena mereka tidak memliki dorongan kuat untuk mengetahui lebih jauh terhadap wawasan dan ilmu keberagamaannya. Untuk mencairkan kebekuan minat mengetahui sesuautu (terutama makna syahadat) dalam benak pikiran masyarakat, para motivator (dai) harus meningkatkan volume materi ceramahnya tentang makna syahadat, dan menguak kisi-kisi kalimat syahadat dengan “pernak perniknya”, sehingga menarik masyarakat untuk mengetahui lebih dalam terhadap “kesyahadatannya”. Faktor kedua, dituntut para dai menuntaskan berbagai tema ceramahnya dengan komfrehensif dan menyentuh pranata hakikat keberagamaan manusia. Tanpa menyentuh ranah hakikatnya, keberagamaan seseorang akan terasa “hambar”, bagaikan masakan tanpa bumbu penyedap. Dan faktor ketiga, mayoritas para “penceramah”, memang, belum memiliki kesempatan menyampaikan informasi hakikat syahadat, karena keterbatasan situasi dan kondisi. Berdasarkan pemikiran itu, saya mencoba mengurai benang kusut tersebut, sekalipun hanya sekedar “sentilan” saja, semoga memberikan dorongan terhadap masyarakat untuk meningkatkan kembali nilai-nilai keberagamaan dalam setiap dirinya.

Dua kalimat syahadat dalam terjemahan umumnya (bahasa), yaitu: “Aku bersaksi, bahwasannya tiada Tuhan kecuali Allah. Dan Aku bersaksi, bahwasannya Muhammad adalah utusan Allah.” Syahadat ini, pada hakikatnya, merupakan dialog antara Allah SWT. dan Muhammad SAW. yang ilustrasi singkatnya—sering disampaikan dalam hikmah Isra-Mi´raj—seperti ini; ketika Nabi Muhammad SAW. telah sampai di akhir perjalanan Isra-Mi´raj, Jibril as. mempersilahkan Sayyidina Muhammad SAW. untuk masuk ke sebuah “ruangan”, dan Jibril as. sendiri tidak sanggup untuk masuk ke ruangan tersebut, hanya dapat mengantarkan di depan pintunya. Setelah masuk ke ruangan, Sayyidina Muhammad SAW. tidak menemukan apa-apa, kemudian—setelah beberapa saat menunggu—Sayyidina Muhammad SAW. mengucapkan salam (salam ini sering dipakai dalam shalat), “Selamat yang berkah, yang bersambung (shalawat) dengan penuh kebaikan, semuanya tertuju bagi Allah.” Dari dalam menjawab (para Malaikat), “Selamat kepadamu, wahai penyampai berita, dan rahmat-Nya serta keberkahan-Nya. Dan selamat kepada hamba-hambamu yang shaleh.” Kemudian Nabi Muhammad SAW. melihat “cahaya yang besar” dari dalam ruangan, mendekati dirinya, dan seketika Nabi Muhammad SAW. mengucapkan; “Aku bersaksi (wahai Allah), bahwasannya tiada Tuhan kecuali Allah.” Cahaya besar itu menjawab, “Aku bersaksi (wahai Muhamamd), bahwasannya Muhammad adalah utusan Allah.”

Melihat kronologi pengucapan dua kalimat syahadat itu, jelas bagi kita, syahadat diucapkan secara dialog. Nah, muncul sebuah pertanyaan, mengapa dalam bersyahadat—utamanya ketika shalat—yang bersyahadat hanyalah kita seorang, ke mana yang lainnya? Alangkah “gagahnya” dan “beraninya” kita mengucapkan dua kalimat syahadat dalam satu waktu bersamaan, tanpa menyertakan yang lainnya, sebagai “parner” dalam dialog. Hendaknya menjadi bahan renungan bagi kita, sampai sejauh mana kita mengetahui kedudukan dua kalimat syahadat tersebut.

Makna Syahadat
Esensi yang harus diketahui oleh setiap diri kita terhadap makna syahadat, yaitu dalam kalimat Lâ iLâha illâ Allâh, dan Muhammad Rasûlullâh. Lâ kata nafi (peniadaan) untuk meniadakan makna kata Ilâha (Tuhan), sedangkan illâ adalah kata itsbât (penetapan) untuk menetapkan makna kata Allâh. Sebelum meniadakan Tuhan, maka kita harus mengadakan dahulu (memaujûdkan) Tuhan, setelah maujûd, maka kita dapat menetapkan (yang benar), yaitu hanyalah Allâh.

Bagaimana untuk meniadakan? Pertanyaan ini adalah sederhana, tapi dalam maknanya. Sederhana, artinya setiap orang dapat mengajukan pertanyaan ini dengan mudah, sementara dalam maknanya, artinya diperlukan sebuah pemahaman yang luas terhadap juklak dan juknis dalam “merealisasikan” kata tauhid tersebut. Tauhid bukan sekedar kalimat yang cukup hanya diucapkan, tetapi diperlukan sebuah aplikasi yang langsung terkoneksi dengan diri manusia, sehingga dapat merasakan “keni’matan”
dari sebuah “tauhid”. Mengapa demikian? Semua orang dapat menjelaskan makna dari kalimat tauhid dengan luas wawasannya, tapi tidak semua orang dapat mengaktualisasikannya sesuai dengan ilmu hakikat sejati insan. Siapakah yang telah mempunyai “juklak” dan “juknis” tauhid?

Untuk mengenal eksistensi Tuhan, agar dapat menafikan-Nya, dalam rangka menetapkan Yang Benar, harus memasuki gerbang utama keilmuan tauhid, yaitu ilmu kenal diri. Bagaimana bisa mengenal Tuhan, sedangkan dirinya saja tidak dikenalnya dengan sempurna. Tanpa mengenal dirinya, terlebih dahulu, tak satu orang pun dapat mengenal Tuhan dengan sempurna. “Barangsiapa telah mengenal dirinya, maka ia sesungguhnya telah mengenal Tuhannya.” Demikian tegas Nabi Muhammad SAW. Makna “Tuhan”, sementara ini, senantiasa diartikan tidak sesuai dengan “Tuhan” yang dimaksud oleh kalimat tauhid. Oleh karenanya, kita sering mendengar kata-kata, misalnya; “uang adalah tuhan baginya,” “kemajuan materi telah dijadikannya sebagai tuhannya.” Kata-kata seperti ini, tidaklah pantas keluar dari lidah seseorang yang dianggap sebagai panutan masyarakat dalam keberagamaan. Tuhan bukanlah seperti yang dipersepsikan selama ini oleh mayoritas orang. Tuhan adalah eksistensi-substansialis yang absolut kebenarannya. Untuk menyingkap keberadaan Tuhan ini, diperlukan sebuah keterbukaan hati yang lembut dan penuh ketawaduan. Hati-hati yang keras tidak akan menerima eksistensi yang lembut ini. Kalau sudah mengenal Tuhannya, maka dengan sendirinya, ia akan mengenal Allahnya. Temukanlah Tuhanmu, maka Allahmu akan “maujûd” dalam mata kebijaksanaanmu.

Sedangkan kalimat Muhammad Rasûlullâh, mesti diketahui juga makna hakikinya, tidak sekedar makna parsial yang sementara ini kita pahami. Hakikat makna Muhammad bukan yang berada di luar; yang merupakan produk sejarah, melainkan harus dicari hakikat Muhammad yang ada dalam diri setiap manusia. Muhammad diutus bukan untuk di masyarakat Arab saja, melainkan Muhammad diutus untuk semua manusia di muka bumi ini, tanpa membedakan identitas bangsa, ras, suku, bahkan agama. “[Wahai Muhammad], Aku tidak mengutus engkau, kecuali untuk semua manusia. Engkau bertugas menyampaikan kabar gembira, dan kabar takut.” Begitulah bunyi dari firman Allah dalam Al-Qur’an. Dengan menerima konsep ini, seseorang dapat “berjumpa” dengannya, kapan dan di mana saja berada. Karena ia menjadi “insan terpujinya”, yang memberikan petunjuk terhadap jalan yang benar, dan memberikan peringatan kepada jalan yang tidak diridhainya. Sudahkah kita menemukan Muhammad yang ada dalam diri kita?

Syahadat Para Khalifah
Dengan memahami hakikat kalimat tauhid, Lâ iLâha illâ Allâh, Muhammad Rasûlullâh, dengan benar dan tepat, Khulafâur Râsyidîn dapat merealisasikan dan mengaktualisasikannya dalam gerak dan langkahnya. Abu Bakar Shidiq ra., mengatakan; aku tidak mengerjakan sesuatu, kecuali sebelum melakukan sesuatu aku melihat-Nya. Artinya, sebelum melakukan sebuah pekerjaan apa saja, di mana saja, dan kapan saja, Abu Bakar Shidiq ra. melihat terlebih dahulu Sang Kekasih, buah hatinya. Setelah melihat-Nya, dan mengizinkan untuk bekerja, ia mulai melaksanakan pekerjaan. Begitulah Abu Bakar Shidiq dalam bersyahadat sepanjang hayatnya. Dan, Umar bin Khatab ra. berbeda dengan Abu Bakar Shidiq ra., ia mengatakan; aku tidak mengerjakan sesuatu, kecuali setelah melakukan pekerjaan aku melihat-Nya. Maknanya, setelah menyelesaikan sebuah pekerjaan, Umar bin Khatab ra. melihat pujaan hatinya, dengan “mata” hikmahnya. Sedangkan, Utsman bin Affan ra. berkata; aku tidak mengerjakan sesuatu, kecuali aku bersama-Nya melaksanakan sebuah pekerjaan. Artinya, Utsman bin Affan ra. bersama-sama dengan “shahabat sejatinya” menyelesaikan pekerjaan. Tidak pernah terlepas dalam satu detik pun. Baginya kebersamaan, adalah bagaikan “gula” dan “manisnya”. Sementara, Ali bin Thalib kw. mengatakan; aku tidak mengerjakan sesuatu, kecuali aku melihat di dalam-Nya. Artinya, dalam melaksanakan pekerjaan, Ali bin Thalib melihat di dalamnya. Demikianlah syahadat yang direalisasikan oleh para shahabat Rasulullah SAW., dalam setiap pekerjaannya.

Kemampuan bersyahadat para shahabat tersebut, tentunya, harus dituruti oleh kita semua, sehingga syahadatnya terimplementasikan secara riil, bukan masih dalam tataran wacana saja. Semua orang pandai berbicara dalam konsep, namun dalam aplikasinya, masih sedikit orang yang mampu mengerjakannya. Siapakah orang-orang yang sedikit ini?

Bersyahadat (menyaksikan), sudah jelas, dengan “mata” bukan dengan panca indera lainnya. Namun mata yang mana yang mesti dipakai dalam bersyahadat dalam konteks ini? Tidak semua mata dapat melihat terhadap suatu obyek dengan jelas, hanya mata-mata yang terlatih yang dapat melihat sesuatu yang terlihat (´ainul bashîrah). Eksistensi Tuhan bersembunyi dalam maut, sedangkan eksistensi Muhammad sejati bersembunyi dalam terang. Kenalilah kematianmu, sehingga mengenal Tuhanmu, dan latihlah mata penglihatanmu, sehingga dapat memandang sesuatu yang terang dalam cahaya yang terang.
*Artikel ini telah dipublikasikan di harian PELITA, dalam rubrik OPINI, pada tanggal 10 November 2007.

2 Responses to “Syahadat Khulafaur Rasyidin”

  1. MUHAMMAD IRFAN FAUZI said

    top mantap abis postingannya

  2. dedi arisandi said

    Subhanalloh……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: